From The Muddy Banks of Kali-Grunge, Upaya Memperkuat Jaringan Musikus Semarang

From The Muddy Banks of Kali-Grunge, Upaya Memperkuat Jaringan Musikus Semarang
Kaset pita kompilasi musik From the Muddy Banks of Kali-Grunge. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)

Dengan tujuan merekatkan skena musik Semarang, label rekaman Stoned Zombies merilis kompilasi musik From the Muddy Banks of Kali-Grunge. Tema kompilasi ini adalah grunge, tapi nggak konvensional!

Inibaru.id – Pada 15 Maret 2020 lalu, label rekaman Stoned Zombies melalui akun Instagram-nya merilis kompilasi musik From The Muddy Banks of Kali-Grunge. Kompilasi ini menghadirkan musik-musik dari 23 band asal Semarang dalam bentuk kaset pita. Tema yang diangkat dalam kompilasi ini adalah grunge.

Eits, tapi jangan salah sangka dulu, Millens. Kalau kamu seorang grunge heads, kamu mungkin akan kaget. Grunge di kompilasi ini bukanlah aliran musik Kota Seattle seperti yang dibawakan Nirvana, Pearl Jam, Soundgarden, dan Mudhoney.

Dalam press release-nya, Stoned Zombies menyatakan bahwa grunge nggak perlu didefinisikan dan diseragamkan. Itulah mengapa lagu-lagu di kompilasi ini beragam, bukannya seragam. Semangat yang diusung adalah semangat menyatukan komunitas dan pelaku musik di Semarang.

“Ya tujuannya yang paling penting itu nyambung balung. Merekatkan kembali skena sebagai media kolaboratif. Kita percaya do it together is fun!” ucap Aga, salah satu pengelola Stoned Zombies, melalui pesan singkat, Sabtu (21/3).

Band-band pengisi kompilasi ini dideskripsikan secara singkat melalui <i>booklet </i>yang tersedia di dalam kaset. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)
Band-band pengisi kompilasi ini dideskripsikan secara singkat melalui booklet yang tersedia di dalam kaset. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)

Tujuan merekatkan skena itu terlihat dari beragamnya pengisi kompilasi ini. Band-band baru seperti Siti n Urbaya dan Redam berbagi tempat dengan band lama seperti Biorre, Big Bomb Beers, dan Distorsi Akustik. Bahkan beberapa pengisi kompilasi adalah band Semarang yang sudah lama nggak aktif bermusik.

Awalnya kompilasi ini hadir dari obrolan ringan ketika nongkrong. Tercetus pemikiran membuat kompilasi musik secara independen dan bareng-bareng dengan tujuan merekatkan skena.

Kalau menurut saya sih nggak berbeda antara grunge era Seattle dengan yang dibawa kompilasi ini. Grunge pada 1980-an hadir sebagai sebuah respon dari kondisi sosial yang ada. Para musikus Seattle menghadirkan bentuk lain yang memodifikasi musik punk, rock, metal, dan gaya hippies yang disesuaikan dengan kondisi saat itu. Singkatnya, grunge adalah sebuah respon juga penanda zaman dan generasi baru.

Grunge lahir sebagai sebuah penanda generasi. Di mana sebuah pemberontakan yang domestik lahir dari kehidupan yang orginary, sederhana. Rock n roll bukan lagi sesuatu yang glamour,” tambah Aga melalui pesan singkat.

Yuk, dengerin Millens! (Gregorius Manurung/E05)