"Turah", Cerita Soal Orang Marginal

Poster film Turah. (greenscene.com)

Mengangkat kehidupan masyarakat sebuah kampung di pesisir utara Tegal, film Turah memberi gambaran orang-orang terpinggirkan menjalani hidupnya.

Inibaru.id – Disutradarai oleh Wicaksono Wisnu Legowo, Turah membawa realita masyarakat terabaikan ke layar lebar.

Turah mengangkat kehidupan suatu kampung di Tegal bernama Tirang. Tirang dihuni oleh orang-orang yang kalah dalam persaingan hidup, diliputi rasa pesimis, dan takut pada seorang juragan kaya bernama Darso (Yono Daryono) seperti ditulis hiburan.metrotvnews.

Darso mengendalikan kehidupan Tirang. Kehadiran Pakel (Rudi Iteng) sebagai sarjana penjilat sekaligus tangan kanan Darso semakin membuat mental warga jatuh. Kisah Tirang diangkat dari sudut pandang dua sekawan bernama Turah (Ubaidilah) dan Jadag (Slamet Ambari).

Yap, setelah melewati serangkaian peristiwa Turah dan Jadag terdorong untuk melawan rasa takut yang telanjur menyelimuti Tirang. Mereka berusaha meloloskan diri dari oknum-oknum licik yang menjatuhkan Tirang.

“Kebetulan saya lahir di Tegal. Kampung Tirang ada di Tegal. Saya kenal beberapa kru dan pemain, mereka juga orang Tegal. Ya sudah, nggak ada alasan untuk saya nggak bikin film Turah di Tegal,” kata Wisnu pada liputan6.com (21/9/17).

Salah satu adegan dalam film Turah. (montasefilm.com)

Film yang dirilis Agustus 2017 itu membawa realita sosial kehidupan masyarakat kelas bawah. Pun masih banyak pencinta film di Indonesia yang peduli terhadap isu film semacam itu.

Wisnu memang berhasil membawa atmosfer kehidupan pesisir utara  dan Tegal di dalam Turah. Bahasa Jawa ngapak yang khas dan kultur masyarakat Tegal tertuang rapi di sana. Realisme dalam film juga terjaga sehingga penonton seolah benar-benar sedang menonton sebuah kehidupan yang nyata.

Gagal Melenggang ke Oscar

Meskipun sempat digadang-gadang menjadi salah satu perwakilan Indonesia di Oscar, film yang didaftarkan pada September 2017 ini nggak terpilih. Turah diumumkan gagal pada tahap pertama penjurian seperti yang dilansir dari medcom.com (20/12/2017). 

Gagal maju ke Oscar boleh saja. Namun nyatanya, film ini menjadi penyadar bahwa masih banyak orang di Indonesia yang hidup terbelenggu. Penasaran seperti apa film ini? Belum terlambat untuk nonton kok, Millens! (IB10/E05)