Film Teaching Generation Unair Raih Penghargaan Bergengsi

Hasil tangan dingin tim Film Teaching Generation Universitas Airlangga ini memang layak diganjar trofi perak untuk kategori video institusi paling kreatif tingkat internasional. Tapi apa sih menariknya film ini?

Film Teaching Generation Unair Raih Penghargaan Bergengsi
Wakil Rektor III Unair Moch Amin Alamsjah (kiri) saat menerima penghargaan di Taichung, Taiwan. (unair.ac.id)

Inibaru.id – Sutradara film berjudul Teaching Generation, Redo Nomadore nggak menyangka film buatannya meraih penghargaan trofi perak untuk kategori video institusi paling kreatif tingkat internasional. Penghargaan itu disampaikan dalam event 13th QS-Apple Creative Awards 2017, di Taichung, Taiwan, 22 November 2017.

Melansir laman unair.ac.id (23/11/2017), film yang dibuat oleh Universitas Airlangga ini berkisah tentang perjalanan empat generasi keluarga yang semuanya kuliah di kampus Airlangga. Keempat pemeran utamanya adalah Suroso, Sri, Jono, dan Selly.

Generasi pertama digambarkan pada zaman penjajahan sekitar 1924. Saat itu Unair masih berupa sekolah kedokteran NIAS. Scene kedua mengambil latar pada zaman kemerdekaan 1945. Ketiga di era 80-an, zaman ketika Unair sedang banyak melakukan pembangunan. Dan terakhir mengambil scene sekarang yakni pada 2017.

Salah satu scene berlatar tahun 1945. (Youtube)

Untuk membuat film dengan latar waktu yang berbeda-beda, Redo mengaku harus melakukan banyak riset.

“Kami coba sepresisi mungkin sampai riset seragam PETA, seragam tentara belanda zaman itu, seragam tentara jepang zaman itu, model radio zaman itu, style fashion di setiap zaman, dan banyak lagi,” ungkap alumnus Prodi Hubungan Internasional FISIP Unair ini.

Redo juga banyak mengeksplorasi tempat-tempat bersejarah di Surabaya untuk mendapat set yang tepat. Adapun lokasi-lokasi yang menjadi latar film ini antara lain rumah tua di Dinoyo, Jalan Gula di Surabaya Utara, Tugu Pahlawan dan sekitaranya, bilangan Jalan Rajawali, dan Kampus A Unair sebagai icon universitas.

Pusat Informasi dan Humas (PIH) Unair yang juga turut serta dalam produksi film ini juga nggak menyangka film berdurasi 4,5 menit ini akan mendapat apresiasi tinggi hingga mendapat penghargaan. Suko Widodo Ketua PIH mengaku film ini dibuat dengan waktu yang relatif singkat. Selain itu, pesaingnya pun berasal dari berbagai negara, bukan hanya Indonesia.

“Pada awalnya tidak yakin menang. Karena kami buat dengan waktu yang relatif pendek. Kami juga harus riset untuk menggambarkan sejarah UNAIR dari masa ke masa,” ucap Suko.

“Bersyukur, awards ini memicu kami untuk berkarya lebih baik. Ini pengakuan yang membanggakan,” imbuhnya.

Wah, selamat ya untuk Universitas Airlangga. Kami tunggu karya-karya lainnya.  (IB13/E05)