Film Pendek Indonesia A Daughter’s Memory Menangi Kompetisi Film Pendek Australia-Indonesia

Film A Daughter's Memory atau Tragedi 65 dalam 10 Menit menjuarai Kompetisi Film Australia-Indonesia ReelOzInd. Film berdurasi 10 menit itu bercerita tentang huru hara yang terjadi di Indonesia pada 1965.

Film Pendek Indonesia <em>A Daughter’s Memory</em> Menangi Kompetisi Film Pendek Australia-Indonesia
A Daughter's Memory. (Tempo)

Inibaru.id – Film pendek karya sineas Indonesia A Daughter’s Memory berjaya dalam Kompetisi Film Australia-Indonesia, ReelOzInd. Film ini menang dalam dua kategori yakni Film Terbaik serta Animasi Terbaik.

Laman Tempo, Senin (7/10/2019) menulis film dokumenter pendek yang menceritakan tragedi 1965 dalam 10 menit ini mampu menarik perhatian tujuh juri dalam festival tahunan ini. Ketujuh juri itu di antaranya produser Andrew Mason, direktur program Minikino Cika Prihadi, jurnalis Najwa Shihab, Dewan Penasihat ReelOzInd Nick Baker, dosen Novi Kurnia, aktor Paul O'Brien, eksekutif Body Shop Indonesia Suzy Hutomo.

Film animasi ini menceritakan seorang anak perempuan yang merindukan ayahnya saat tragedi yang terjadi di Indonesia pada 1965. Film ini diawali gambaran sebuah rumah yang merupakan tempat tinggal sang anak dengan keluarganya. Dari yang awalnya menunjukkan wajah-wajah keluarga yang berbahaya, raut muka wajah ini kemudian berubah menjadi ketakutan dan kesedihan dengan ilustrasi penjara yang kental dengan warna merah darah.

Di akhir film yang diproduksi pada 2017 ini, gambar animasi berubah menjadi wajah perempuan yang sudah renta dengan rambut beruban yang memperkenalkan diri.

“Nama saya Svetlana, lahir pada 15 Februari 1956,” ucap sang wanita.

Svetlana ini adalah putri sulung dari Lukman Njoto. Bertahun-tahun lamanya Svetlana nggak berani mengungkap identitas aslinya demi keselamatan keluarga.

“Setengah abad sudah berlalu, apakah saya dan orang-orang lain harus terus hidup dalam ketakutan,” ucapnya di akhir film.

Sutradara film A Daughter's Memory Kartika Pratiwi menyebut film ini menceritakan salah seorang yang selamat dalam salah satu masa paling gelap dalam sejarah Indonesia.

“Svetlana mengenang kembali kisah ayahnya yang saat itu adalah Wakil Ketua CC Partai Komunis Indonesia,” terang Kartika.

Film A Daughter’s Memory adalah satu dari empat proyek film dokumenter yang dibuat KotakHitam Forum terkait dengan kejadian 1965. Nggak hanya ditayangkan di Treasury Theatre, Melbourne, pada Minggu (6/10), film ini juga dikirimkan ke festival-festival film lainnya demi mengungkap masa lalu di Indonesia yang selama ini seperti tabu untuk dibicarakan atau didiskusikan.

Semoga saja semakin banyak film karya anak bangsa yang berkualitas, ya, Millens. (IB09/E04)