Pretty Boys yang Belum Benar-Benar Pretty

<em>Pretty Boys</em> yang Belum Benar-Benar <em>Pretty</em>
Poster dalam trailer film Pretty Boys. (Youtube)

Film debut Tompi sebagai sutradara ini membahas isu yang terjadi di dunia pertelevisian sekaligus gender dengan gaya komedi. Cukup menghiburkah atau malah nggak lucu sama sekali?

Inibaru.id –  September kali ini, gairah saya dalam menonton film, terlebih produksi Indonesia tampaknya sedang menurun. Dari 11 film Indonesia yang tayang selama September, hanya Pretty Boys yang cukup menarik perhatian saya.

Poster film ini sempat menggegerkan warganet. Di poster awal, kedua pemeran utama, Deddy Mahendra Desta dan Vincent Rompies tampak memakai riasan yang luntur. Lantaran banyak protes, Tompi mengganti poster tersebut.

Selain poster filmnya yang kontroversial, para pemain dan tim di balik layarnya pun cukup menarik perhatian. Film ini dikerjakan sekumpulan debutan. Desta baru kali pertama duduk di bangku produser, sedangkan Tompi juga baru bereksperimen sebagai sutradara. Sejumlah pemain juga masih pemula seperti Danilla Riyadi dan Onadio Leonardo, meskipun mayoritas pemain film ini sudah kawakan.

Sejumlah hal itu sukses memikat saya untuk menonton film ini. Tiket sudah di tangan, lantas bagaimana dengan filmnya?

Sinopsis Pretty Boys

Aku ingin muncul di tv. Buat acara sendiri. Bukan gosipnya selebriti. Harus yang lebih berisi.

Lagu “Televisi” Naif itu cukup untuk menggambarkan alur cerita Pretty Boys. Dua tokoh utama, Anugerah (Vincent) dan Rahmat (Desta) adalah sepasang sahabat yang berkeinginan untuk tampil di televisi. Sejak kecil, mereka pengin menjadi pembawa acara dan muncul di layar tabung itu. Mimpi tersebut membawa mereka merantau ke ibu kota.

Seperti film drama lainnya, tokoh utama tentu saja nggak akan mudah menggapai mimpinya. Sesampai di ibu kota, Rahmat dan Anugerah menjadi koki dan pelayan kafe terlebih dulu. Di situ mereka bertemu dengan Asty yang diperankan Danilla.

Nggak hanya pekerjaan itu yang mereka lakoni, job seperti menjadi badut pun mereka ambil untuk bertahan hidup. Hingga suatu hari, mereka ditawari menjadi penonton bayaran di tivi. Karena ada embel-embel tivi, tawaran itu langsung diambil.

Di bagian ini, lika-liku hidup Rahmat dan Anugerah yang sebenarnya baru dimulai. Mereka bertemu dengan Roni (Onad) yang merupakan koordinator penonton. Dari situ, mereka bertemu dengan produser Bayu (Imam Darto) dan akhirnya dipilih menjadi co-host lantas naik pangkat menjadi host utama.

Kehidupan di balik layar televisi dikupas di sini. Manajer dadakan yang maling duit artis, produser yang hanya berorientasi pada rating, belum lagi tekanan batin artis yang mesti melakoni serangkaian hal yang bertentangan dengan dirinya dikuliti Tompi dalam cerita ini.

Setelah melewati sejumlah konflik, Anugerah memutuskan untuk pulang ke kampungnya. Sementara, Rahmat kehilangan semuanya karena karier mereka jatuh.

Di akhir, mereka memutuskan membuat konten di Youtube untuk menyalurkan kemampuan mereka membawakan sebuah acara.

Hampir Sempurna Kecuali Satu

Film ini diulas bagus beberapa kritikus film. Di IMDB, film yang hanya digarap enam minggu itu memperoleh rating 8,5. Lebih tinggi daripada film komedi yang tayang pada bulan yang sama.

Dari segi cerita, film ini runtut. Ada pengenalan, permasalahan, klimaks, dan penyelesaian yang dialami pemeran utama. Secara ringkas, film ini nggak gantung.

Dari segi pemain, film terakhir Vincent ini dibintangi artis dengan nama-nama besar. Cameo saja sudah sangat joss seperti Dwi Sasono, Najwa Shihab, Enzy Storia, Natasha Rizky, bahkan Glenn Fredly. Meski begitu, pembangunan karakter tokoh utama terlihat kurang runtut.

Tentang gambar dan tone warna, film ini nyaman dilihat. Tone warna yang dipilih terkesan hangat tapi menonjol. Pencahayaan film cukup memanjakan mata.

Film ini juga cocok bila dicap bergenre komedi karena leluconnya cukup ngena dan bisa dihubungkan dengan zaman sekarang. Kalau kamu sering menonton program yang digawangi Vincent dan Desta di salah satu saluran televisi, seperti itulah tipe banyolan yang akan kamu temui di film ini.

Nggak lupa, sejumlah kritik terhadap beberapa kasus juga dilontarkan dengan ringan tapi sangat dalam. Salah satu yang paling nampol adalah saat Anugerah menyinggung bapaknya tentang peristiwa 1998.

Namun, satu hal yang menurut saya membuat film ini hambar. Penggambaran gender dalam film itu sangat abu-abu dan terlalu menjustifikasi. Banyak tokoh cowok yang dibuat kemayu dan terpaksa kemayu karena suatu alasan di film ini. Em, tapi kalau hal itu dibuat guyonan? I’m sorry, it’s not funny, Dude.

Sejumlah adegan itu menyadarkan saya betapa masih patriarkinya Indonesia. Di bioskop, saya beberapa kali mengernyitkan dahi saat penonton lain tertawa dengan banyolan soal gender.

Hal itu tampak kecil dan sepele karena masyarakat memang sudah terbiasa menertawakan cowok yang nggak sesuai dengan standar sosial warga. Namun, bagi saya, hal ini cukup mengganggu kekocakan Pretty Boys.

Entah apa tujuan sang sutradara atau penulis naskah memilih kisah ini. Bagi saya, lelucon tentang gender sangat nggak lucu. Alhasil, poin ini mempengaruhi saya untuk memberikan nilai 1,0 di bawah rating di IMDB.

Em, tapi untuk sekadar menjadi penghibur di akhir pekan atau di sela aktivitas menumpuk, film ini bisa diandalkan sih. Oh iya, kalau kamu pengin tahu betapa falsnya suara Glenn Fredly, ya tonton film ini aja deh. Apalah ulasan saya ini tanpa pembuktian dari sobat Millens yang terhormat. Ha-ha! (Ida Fitriyah/E05)