Imperfect, Jadi Cewek Nggak Gampang!

<em>Imperfect</em>, Jadi Cewek Nggak Gampang!
Jessica Mila dalam Imperfect. (Youtube.com/ Visinema Pictures)

Menonton film ini, kamu bakal tahu sulitnya jadi perempuan dengan berbagai standar kecantikan. Berbagai penghakiman tentang bentuk tubuh dengan penampilan menjadi hal yang diulang-ulang dalam berbagai dialog di film ini. Alih-alih tambah pede, saya malah kesal selepas menonton film ini.

Inibaru.id – Film produksi Ernest Prakasa selalu berhasil bikin saya penasaran. Selain karena promosinya yang selalu heboh, tansformasi Jessica Mila di film Imperfect ini jadi daya tarik tersendiri. Yap, aktris yang selalu tampil maksimal ini dirombak habis-habisan untuk memerankan tokoh Rara.

Rara memang menjadi perhatian utama dari awal film dimulai. Tubuhnya gempal, berkulit cokelat serta rambut berombak. Saya bahkan bisa melihat pipinya yang chubby di balik rambutnya yang mengembang serta double chin yang sulit disembunyikan. Sorotan kamera pada bentuk tubuh Rara di awal ini bikin saya berpikir, “Ini beneran Jessica Mila?”

Saya (dan mungkin penonton kebanyakan) sengaja menonton film ini sekadar untuk mendapatkan dukungan agar nggak terus merasa insecure dengan penampilan dan bentuk tubuh. Namun apa yang saya dapatkan di sepanjang film ini malah bikin kecewa.

Sepanjang film saya hanya mendengar penghakiman terhadap bentuk tubuh dan penampilan. Ya....  kuping saya gatal banget ketika mendengar berbagai standar kecantikan yang dilontarkan ibu Rara, teman kantor Rara, teman ibunya Rara, dan lain-lainnya. Semuanya toxic!

Nggak cuma Rara yang bulliable itu! Namun adik Rara, Lulu yang diperankan oleh Yasmin Napper pun turut mendapatkan body shaming lo! Sosok beauty influencer yang sempurna saja masih dicela karena jerawat dan pipi chubby-nya! Sumpah, saya kesal kenapa film ini malah terkesan menghakimi semua perempuan.

Yang bikin saya tambah kesal, Rara terjebak dengan lingkungannya yang toxic untuk diet ketat dan dandan habis-habisan. Untuk apa? Bukan karena lelah mendapatkan body shaming, namun untuk mendapatkan apa yang dia cita-citakan di tempatnya bekerja.

Mimpi Buruk Perempuan

Bagi sebagian perempuan mungkin ini bisa menjadi satu motivasi. Namun bagi saya, ini seperti mimpi buruk. Rara yang cerdas dituntut agar menjadi cantik untuk menjadi nilai tambah. Jadi sebenarnya apa yang dibutuhkan lingkungan? Apa perempuan yang cerdas saja nggak cukup?

Film ini sungguh menghadirkan penghakiman nyata bagi segala kekurangan dan kelebihan perempuan. Penghakiman-penghakiman ini bakal terjadi pada sekitar dua per tiga film, sementara bagian akhir bakal ada momen di mana tokoh-tokoh di dalamnya nggak lagi merisaukan penampilan.

Dan begitulah Rara, meski sudah berubah menjadi seperti yang lingkungannya mau, dia nggak serta merta menjadi seseorang yang bahagia seperti sebelumnya. Nah ini nih poinnya! Nggak semuanya omongan orang perlu saya telan. Toh apakah semuanya bermanfaat dan bikin saya bahagia?

Semua perempuan itu cantik dengan caranya masing-masing. Bukan tergantung pada penampilan atau angka di timbangan.

Bagi saya, film ini menampilkan berbagai potret kecantikan perempuan Indonesia. Dari yang berkulit gelap, bermata sipit, bergigi nggak rata, berambut keriting dan banyak lagi. Mungkin salah satunya mewakili kegelisahanmu. Oh ya, kehadiran Reza Rahadian sebagai kekasih Rara di film ini juga bikin kamu bakal mengidamkan sosok pacar sepertinya. Ha ha

Jadi apakah kamu tertarik menonton film ini, Millens? (Zulfa Anisah/E05)