Foxtrot Six, Film yang Ngegas Terus dari Awal sampai Akhir

Menceritakan masa depan Indonesia yang berada di ambang kehancuran karena pemerintahan yang korup, Foxtrot Six menyajikan cerita laga yang cukup mengesankan, meski masih menyisakan celah di sana-sini. Seberapa menarik?

<em>Foxtrot Six</em>, Film yang Ngegas Terus dari Awal sampai Akhir
Salah satu adegan dalam Foxtrot Six. (Amazon)

Inibaru.id – Menilik judul dan posternya saja barangkali semua orang bakal paham,  Foxtrot Six adalah film laga, mungkin penuh baku tembak, dan bertumpah darah. Maka, kalau kamu belum cukup umur atau bersama gebetan yang belum cukup umur, jangan nonton film yang tengah tayang di bioskop ini!

Ya, sejak menit-menit awal, film yang tayang sejak 21 Februari 2019 lalu tersebut memang menyuguhkan adegan laga yang seolah nggak ada habis-habisnya. Ngegas terus dari awal sampai akhir! Kalau pun ada adegan percintaan, itu tak lebih dari sekadar basa-basi.

Foxtrot Six berlatar kondisi Indonesia pada masa mendatang. Alih-alih menjadi kota canggih, Jakarta pada 2031 itu, yang menjadi latar tempat film garapan Randy Korompis tersebut, ditampilkan begitu muram dengan kondisi yang jauh lebih menyedihkan dari saat ini.

Piranas, partai penguasa di Indonesia saat itu diisi para politikus korup yang hidup di antara rakyat kebanyakan yang tak bisa makan dan penyakitan. Ketidakadilan menjadi biasa. Inilah yang kemudian diperangi Reform, kelompok anti-pemerintah yang terus berusaha memberontak dan didukung rakyat.

Angga (Okan Antara) dalam Foxtrot Six. (Beritagar)

Lantaran merasa terganggu, Pirantas bekerja sama dengan militer Gerram untuk menumpas Reform. Nah, aksi saling serang itulah yang kemudian memunculkan Foxtrot Six, kelompok yang dipimpin Angga (Okan Antara), eks perwira militer cum anggota kongres Partai Piranas yang membelot.

Angga berubah haluan setelah mengetahui penderitaan rakyat dan semenjak bertemu Sari (Julie Estelle). Sari adalah mantan kekasih Angga sekaligus panglima Reform.

Bersama Oggi (Verdi Solaiman), Spec (Chicco Jerikho), Bara (Rio Dewanto), Tino (Arifin Putra), dan Ethan (Mike Lewis), keenam mantan militer itu bahu-membahu menyelamatkan Indonesia dari kehancuran.

Alur Rapi, Penokohan Berantakan

Dari segi cerita, alur film yang memakan biaya hingga 5 juta dolar AS atau sekitar Rp 70 miliar itu bisa dibilang cukup rapi. Konflik yang dibangun pun dibuat dengan wajar, nggak berlebihan. Sayang, tokoh yang ditampilkan terlalu banyak, menjadikan penokohan di film tersebut berantakan.

Tak berhenti di situ, sejumlah kritikus bahkan menganggap teknologi Computer Graphics Interface (CGI) yang diterapkan dalam film tersebut memiliki banyak celah. Bukan buruk, hanya kurang maksimal pada beberapa bagian.

Namun, lepas dari beberapa bagian yang mungkin belum sempurna, film yang diproduksi MD Pictures dan diproduseri Mario Kassar adalah angin segar bagi perkembangan film laga Tanah Air.

Setelah Merantau (2009), The Raid (2011), The Raid 2: Berandal (2014), Headshot (2016), dan The Night Comes for Us (2018), mungkin sekarang giliran Foxtrot Six yang unjuk gigi menawarkan ketegangan dan darah yang berlimpah.

Hm, sudah nonton, Millens? Kalau belum nonton, buruan deh, keburu filmnya nggak tayang lagi di bioskop! Gas terus dari awal sampai akhir! Ha-ha. (IB20/E03)