Digelar Tiga Tahun Sekali, Semarang Literary Trienall Adakan Bazar Buku dan Panggung Seni

Digelar Tiga Tahun Sekali, Semarang Literary Trienall Adakan Bazar Buku dan Panggung Seni
Semarang Literary Trienall terselenggara di gedung Oudetrap. (Inibaru.id/ Audrian F)

Gabungan pegiat sastra Semarang mengadakan festival sastra yang bertajuk "Semarang Literary Trienall". Menampilkan berbagai gelaran apik seperti bazar buku, diskusi, dan panggung seni.

Inibaru.id - Festival sastra mungkin selama ini banyak digelar di kota-kota yang kental akan budaya dan pendidikannya seperti Jogja, Solo, Bandung, atau Makasar. Atau juga Jakarta sebagai pusat dari banyak hal. Namun kali ini Semarang juga nggak mau kalah.

Adalah “Semarang Literary Triennall” yang menjadi pembelaan kalau Semarang nggak ingin kalah dengan kota-kota ikonik tadi. Diselenggarakan oleh berbagai kelompok sastra di Semarang, baik instansi maupun komunitas, acara yang dilaksanakan pada Sabtu dan Minggu (27-28/7) ini berlangsung meriah.

Semarang Literary Trienall hadir di tengah ruang kota. Pelaksanaannya berlokasi di Taman Srigunting dan Gedung Oudetrap Kota Lama, Semarang. Mengangkat tema “Sastra Semarang Piye Kabare?” festival sastra ini sudah terlaksana sebanyak tiga kali. Sesuai namanya, memang acara ini dilakukan secara tiga tahun sekali.

Meskipun acara sastra yang biasanya nggak terlalu ramai dikunjungi orang, namun pada kali ini berbeda.

Bertepatan dengan akhir pekan, Kota Lama menjadi ramai karena dikunjungi oleh berbagai wisatawan. Dengan  adanya hal itu, perhatian mereka tertuju kepada bazar buku yang menggelar lapaknya di acara ini. Praktis, pelapakan buku yang terdiri dari berbagai penerbit tersebut dipenuhi juga oleh para wisatawan.

Acara utama yang dihadirkan oleh festival ini adalah ruang diskusinya. Pembahasannya pun selalu menarik mulai dari membicarakan sastra Semarang, penerjemahan, literasi, hingga dunia penerbitan. Ada tokoh-tokoh sastra tersohor yang datang untuk menyemarakan diskusi-diskusi tersebut, antara lain seperti Mario F Lawi, Handry TM, Sulis Bambang, dan Widyanuari Eko Putra.

Ahmad Khaerudin dari Hysteria, mengatakan kalau festival semacam ini memang perlu dibuat untuk panggung para pegiat sastra Kota Semarang.

“Kota-kota lain sudah memiliki festival ternama. Tinggal Semarang yang belum. Harapannya pada festival kali ini tidak hanya terselenggara saja, tapi juga bisa menumbuhkan inisiatif dan kegiatan-kegiatan lain,” pungkas Khaerudin yang saat ini juga menjadi dosen jurusan Antropologi di Universitas Diponegoro Semarang.

Acara sudah berhenti sampai di situ saja? Eits, tunggu dulu. Masih ada panggung baca puisi yang juga diisi oleh para pegiat sastra Semarang seperti Beno Siang Pamungkas, Sandra Palupi, Didik WS DAN Himas Nur.

Kemudian yang juga nggak kalah jadi pusat perhatian adalah penampilan musik dari sejumlah musisi dengan berbagai corak karakter musik. Sebut saja ada Serambi, Dengan Kata Lain, Wadah Musik Sastra, BDBIT, Swaranabya, dan Tridhatu.

Bagus juga acaranya ya, Millens. Mudah-mudahan ini membawa dampak menguntungkan untuk sastra Semarang dan kegiatan seni lainnya. (Audrian F/E05)