Cukup Baik, Kabar Musik Jazz di Kota Semarang
Musisi Jazz di Jazz Ngisor Ringin. (Inibaru.id/ Audrian f)

Cukup Baik, Kabar Musik Jazz di Kota Semarang

Musik jazz mungkin belum sepopuler musik dangdut atau pop. Meski begitu dibanding satu dasawarsa yang lalu, jazz sudah lebih inklusif.

Inibaru.id - Dibandingkan musik dangdut atau pop, mungkin musik jazz nggak begitu "laris" hingga ke berbagai lapisan masyarakat. Bisa saja sih ini masalah selera atau aliran ini masih terasa ekslusifnya. Saya merasa di Semarang pun terasa demikian. Tapi pendapat ini ditampik Katrina Handriani, pengelola Jazz Ngisor Ringin. Menurutnya, sejauh ini perkembangan musik jazz di Kota Atlas sudah cukup baik.

“Kalau dari animo, saya rasa cukup baik. Saya mengukurnya dari pengunjung yang datang ketika kami mengadakan kegiatan rutin seperti jamming session, jazz in the mall, hingga Loenpia Jazz. Pasti ramai dan banyak yang menikmati juga," katanya.

Menurut perempuan lulusan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Diponegoro tersebut, jazz kini merakyat. Saat ini orang sudah nggak harus masuk hotel dulu untuk menikmati jazz seperti satu dekade lalu. Banyak tempat dan festival yang membuat jazz dikenal masyarakat. Ditambah makin masifnya platform pemutar musik sehingga makin jadi tren. Terjunnya anak muda yang mendalami musik jazz juga membuat genre ini dekat menyentuh generasi muda.

Komunitas yang dikelola oleh Katrina, yakni Jazz Ngisor Ringin juga dapat menjadi tolak ukur bagi perkembangan jazz di Kota Semarang. Sebagai wadah musik jazz, tentu bisa menjadi sarana untuk musikus jazz agar saling menyatukan minat dan bakatnya.

“Sejauh ini Jazz Ngisor Ringin juga menjadi wadah untuk berbagai musisi jazz di Kota Semarang. Ada yang individu dan dalam bentuk grup band,” kata Katrina.

Saxopon salah satu aspek penting dalam musik jazz. (Inibaru.id/ Audrian F)

Kemudian untuk relasi antara musikus jazz, Katrina berpendapat kalau selama ini cukup baik. Cuma memang nggak bisa terus konsisten. Menurut Katrina, atmosfir Semarang memang beda dengan kota budaya semacam Yogyakarta. Akibatnya, iklim komunitas dan komunitasi antarmusikus jazz terdampak.

Sementara untuk sokongan Pemerintah, Kartrina berpendapat sudah cukup membantu. Terlihat dari beberapa event yang dimana Pemerintah juga ikut andil. Namun untuk beberapa hal, Katrina mewakili Jazz Ngisor Ringin juga memberi masukan.

“Upaya Pemerintah sebetulnya sudah cukup oke dalam mengangkat musisi lokal termasuk jazz. Seperti misalnya 'music on the street' yang diadakan di depan balai kota itu, misalnya. Cuma menurut kami itu kurang. Harusnya lebih terkonsep, misal di Taman atau di mana yang mana juga musisi pengisinya juga menyesuaikan,” tutup Katrina.

Ternyata sudah cukup baik juga ya, Millens. Cuma memang butuh konsistensi dan totalitas. Kalau kamu suka musik jazz nggak? (Audrian F/E05)