Bukan Film Pertama di Indonesia, Kenapa Darah & Doa Jadi Penanda Hari Film Nasional?

Darah & Doa yang diproduksi pada 1950 bukanlah film pertama yang diproduksi di Indonesia, karena sebelumnya ada Loetoeng Kasaroeng yang dibikin pada 1926 dan sejumlah film lain. Namun, kenapa film Usmar Ismail tersebut yang dijadikan sebagai penanda Hari Film Nasional?

Bukan Film Pertama di Indonesia, Kenapa <em>Darah & Doa</em> Jadi Penanda Hari Film Nasional?
Film "Darah & Doa". (Wikimedia)

Inibaru.id – Dewan Film Nasional (DFN) menetapkan hari syuting pertama film Darah & Doa (1950) yang berlangsung di Purwakarta pada 30 Maret 1950 sebagai penanda perayaan Hari Film Nasional. Lantas, kenapa DFS menetapkannya demikian?

Perlu kamu tahu, film pertama yang diproduksi di Indonesia adalah Loetoeng Kasaroeng (1926). Menurut catatan Katalog Film Indonesia, dikutip dari Medcom, Sabtu (30/3/2019), yang diadaptasi dari dongeng rakyat Lutung Kasarung dari Jawa Barat itu juga tergolong laris.  

Ditayangkan selama sepekan di Bandung pada 31 Desember 1926 hingga 6 Januari 1927, film besutan L Hueveldorp dan G Kruger itu diproduksi Java Film Company. Namun, menurut DFN, film bisu tersebut tidak memenuhi kriteria "film Indonesia".

Dalam konferensi organisasi pada 11 Oktober 1962, DFN beranggapan, Darah & Doa mewakili semangat kemandirian pribumi, tak bermuatan politis, dan cukup idealis. Karena alasan itulah film yang memuat kisah tentang long march tantara Divisi Siliwangi tersebut dijadikan sebagai “yang pertama”.

Konon, modal awal film ini berasal dari pesangon Usmar setelah pensiun dari kesatuan tentara. Setahun setelah konferensi 1962, Usmar menulis bahwa Darah & Doa merupakan film pertama yang sepenuhnya dikerjakan dan menjadi tanggung jawabnya sendiri.

Nah, Millens, kamu sudah pernah nonton film Darah & Doa belum? Yuk, cari filmnya, dan selamat merayakan Hari Film Nasional! (IB20/E03)