Buffalo Boys, Film Indonesia Bernuansa Koboi ala Hollywood

Buffalo Boys, Film Indonesia Bernuansa Koboi ala Hollywood
Cover Film Buffalo Boys. (Buffalo Boys)

Ingin nonton film lokal rasa internasional? Tonton saja Buffalo Boys. Berlatar belakang sejarah Indonesia, Buffalo Boys menyajikan nuansa koboi ala Hollywood.

Inibaru.id - Pertengahan 2018 ini, perfilman Indonesia menghadirkan satu lagi film laga terbaru berjudul "Buffalo Boys". Film tersebut disutradarai oleh Mike Wiluan dan di produksi Infinite Studios yang bekerja sama dengan Zhao Weil Films dan Screenplay Infinite Films.

Mengutip kapanlagi.com (18/8/2018), Buffalo Boys yang dirilis Kamis (19/7/2018) lalu itu mengisahkan dua bersaudara yang ingin membalaskan dendam ayah mereka setelah diasingkan ke Amerika selama bertahun-tahun. Padahal ayah mereka seorang Sultan.

Semua bermula pada 1860, saat Belanda berusaha memaksakan negosiasi damai. Ketika itu Sultan Hamza mencoba melarikan diri dengan dua anaknya yang masih kecil, Jamar dan Suwo serta adiknya Arana. Sayang, Sultan Hamza meninggal dibunuh oleh Kapten Van Trach.  

Salah satu adegan Buffalo Boys. (Screenplay Films)

Selama di Amerika, Arana, Jamar dan Suwo bekerja sebagai koboi. Cerita selanjutnya bisa ditebak. Mereka memutuskan kembali ke tanah kelahirannya untuk membalaskan dendam sang ayah. Konflik kian menarik dengan kehadiran Kiona. Cinta segitiga? Untuk lebih jelasnya nonton sendiri ya. Ha ha

Penuh Bintang Kenamaan 

Dibintangi Yoshi Sudarso sebagai Suwo dan Ario Bayu sebagai Jamar, Buffalo Boys juga menampilkan bintang kenamaan lainnya. Seperti Pevita Pearce (Kiona), Tio Pakusadewo (Arana), Mikha Tambayong (Sri), Happy Salma (Seruni), Reinout Bussemaker (Van Trach), dan Alex Abbad (Fakar).

Film ini juga diklaim menarik karena menghadirkan nuansa yang berbeda. Film yang menggambarkan Indonesia di era kolonial ini dibungkus dengan gaya koboi ala Hollywood. Mulai dari musik latar, pakaian para penjajah, hingga cara berantemnya.

Kapten van Trach bersama para koboi pengawalnya. (Screenplay Films)

Bernuansa jingga dan abu-abu, visual yang dihadirkan juga berstandar internasional. Sebagian  besar elemen film juga rasa global, seperti tata rias dari Malaysia, pemeran pengganti dan desain kostum dari Thailand serta Hongkong.

Selain itu, meski hanya fantasi tapi jalan ceritanya masih dalam koridor sejarah. Akting para pemerannya juga natural dan apa adanya. Jadi, dengan kualitas dan keunikannya, wajar jika Buffalo Boys mendapatkan pujian saat tayang perdana dalam event Fantasia Intenational Film Festival di Montreal, Kanada. Bahkan, penontonya juga menagih sekuel film tersebut, lo.

So, kapan nih Millens mau nonton Buffalo Boys? Eits, tapi ingat ya, film berdurasi 102 menit ini khusus untuk 17 tahun ke atas. (IB05/E05)