Berimprovisasi Musik Lintas Genre Bersama Majelis

Berimprovisasi Musik Lintas Genre Bersama Majelis
Pagelaran pertama Majelis untuk Improvisas di Grobak Art Kos Hysteria. (Dokumentasi Majelis)

Selain berlatih musik di studio, ada bentuk lain yang dihadirkan kelompok seniman di Semarang, Majelis Untuk Improvisasi (MUI).

Inibaru.id –  Kamu seorang musikus, Millens? Kalau iya, kamu pasti setuju jika saya bilang berlatih adalah kunci untuk mengembangkan kemampuan. Namun, ada bentuk lain dari berlatih yang dihadirkan oleh Majelis untuk Improvisasi.

Majelis untuk Improvisasi (disingkat MUI) adalah kelompok seniman yang menghadirkan eksperimentasi bebunyian melalui pagelaran jamming di Semarang. Hadir sejak 2018, Majelis sudah mengadakan jamming improvisasi sebanyak 9 kali. Acara ini dilaksanakan setiap dua bulan sekali secara nomaden.

Genre musikus yang dihadirkan di acara dwibulanan Majelis pun sangat beragam. Mulai dari musisi jazz, folk, pop, punk, postrock, hingga eksperimental dan harsh noise pernah ditampilkan. Mereka akan tampil dalam satu panggung untuk memainkan komposisi bunyi dan merespon komposisi bunyi satu sama lain. Nggak cuman dua atau tiga, Millens, pernah sampai 6 musikus dalam satu panggung yang hampir semuanya lintas genre.

Dari situ, menurut Johanes Handjono, salah satu pendiri Majelis, akan terjadi pertukaran ide dan referensi dari masing-masing latar belakang musikus. Juga ketika melakukan improvisasi orang bisa melakukan apa saja tanpa harus terikat oleh struktur dan aturan-aturan berkarya yang sudah ada. Pernah musikus folk Tries Supardi satu panggung dengan musikus harsh noise.

Johanes Handjono dan Ian Pramana, dua anggota Majelis Untuk Improvisasi. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)
Johanes Handjono dan Ian Pramana, dua anggota Majelis Untuk Improvisasi. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)

“Tries tuh bisa nge-blend, tapi ya dia kontras banget. Waktu quiet tuh ada gitar akustiknya, tapi waktu musiknya naik dia bisa naik juga,” ucap Johanes Handjono, Sabtu (14/3).

Dari pagelaran jamming tersebut, selain pengalaman tampil improvisasi musik, sering juga terjadi perbincangan antarmusikus perihal penampilan mereka sebelumnya. Pernah terjadi penampil dari luar negeri yang setelah tampil ngobrol mendalam soal musik tradisional di Indonesia. Walaupun ada juga musikus yang setelah tampil langsung pulang.

Untuk penampil dalam pagelarannya, orang-orang di balik Majelis nggak mengambil standar tertentu. Yang menurut anggota Majelis menarik untuk digabungkan akan besar kemungkinan untuk diajak tampil di pagelaran improvisasi mereka. Ada juga penampil yang diundang karena ketika ngobrol dia merasa tertarik untuk ikut dalam pagelaran musik improvisasi Majelis.

“Nggak ada standarnya sih. Lebih ke ‘Lucu nih kayaknya kalau ada anak jazz ketemu anak noise’. Yang penting kan nggak saling mengganggu,” ucap Johanes. Hal itu juga didorong oleh orang-orang di balik Majelis memiliki selera musiknya yang berbeda-beda.

Wow, sepertinya tambah asyik ya kalau beberapa genre tampil bersamaan. Kamu sudah pernah nonton belum, Millens? (Gregorius Manurung/E05)