Belajar Filfasat di Tengah Wabah Covid-19, Penting?

Belajar Filfasat di Tengah Wabah Covid-19, Penting?
Filsafat yang njelimet itu ternyata banyak yang mempelajarinya selama wabah Covid-19. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)

Kegiatan unik selama wabah Covid-19 dijalankan oleh Syarif Maulana dan Al Nino Utama. Mereka menjalankan kelas daring yang membahas ilmu-ilmu filsafat. Kelas itu bernama Kelas Isolasi. Setiap minggunya terdapat beberapa sesi.

Inibaru.id – Menurut pengakan Syarif Maulana, dosen Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan jumlah para peserta yang hadir sampai 20 April 2020 menyentuh angka 1.800 peserta. Para peserta datang dari 29 provinsi di Indonesia dan 9 negara di dunia. Banyak sekali, ya, Millens?

Hal ini membuat saya menyadari bahwa masih banyak yang ingin mempelajari filsafat. Padahal filsafat sering mendapat stereotip negatif di masyarakat, seperti ilmu yang mengawang-ngawang dan akan membuat orang yang mempelajarinya menjadi ateis.

Hal menarik lainnya adalah, ternyata banyak orang yang berniat untuk mempelajari filsafat di tengah wabah Covid-19 sekarang ini. Kejadian ini membuat saya bertanya, apa sih pentingnya mempelajari filsafat?

“Filsafat punya kecenderungan mempertanyakan segala sesuatu. Justru peran dan manfaatnya sangat tinggi. Kita diajak untuk mempertanyakan kembali makna dan tujuan hidup, yang segala kepastiannya runtuh oleh wabah yang luar biasa ini,” tulisa Syarif dalam surat elektronik, Senin (4/5).

Dengan mempelajari filsafat, menurut Syarif, orang akan lebih reflektif dan kritis atas kehidupan yang terjadi di sekitarnya dan terus bertanya dan mencari. Hal ini bisa dilihat dari asal kata filsafat yang disusun dari kata "philo" dan "sophia" dari bahasa Yunani, yang artinya adalah mencintai kebijaksanaan. Dari perasaan cinta atas kebijaksanaan tersebut, orang akan terus mencari kebijaksanaan sepanjang hidup.

Kehidupan sekarang ini dianggap terlalu praktis. Segala hal diukur secara ekonomi dan politik. Padahal, Syarif percaya bahwa manusia memiliki banyak dimensi dalam kehidupannya. Salah satu cara mencari dan mengetahui dimensi-dimensi kehidupan tersebut adalah dengan mempelajari filsafat.

Menurut Syarif, di tengah keluangan waktu seperti sekarang, orang akan banyak melakukan kegiatan 'kurang penting', seperti belajar filsafat. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)
Menurut Syarif, di tengah keluangan waktu seperti sekarang, orang akan banyak melakukan kegiatan 'kurang penting', seperti belajar filsafat. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)

Di tengah kondisi wabah seperti sekarang ini, Syarif mengaku bahwa mempelajari filsafat adalah hal yang tepat. Banyak orang menghabiskan waktu di rumahnya dan memiliki banyak waktu untuk melakukan hal-hal, dalam bahasa Syarif, “kurang penting”, seperti mempelajari filsafat. Filsafat sering kali dilupakan karena nggak ada waktu untuk mempelajarinya karena sudah diisi oleh kegiatan-kegiatan praktis tadi.

Selain itu, di tengah kondisi wabah seperti ini, hal-hal praktis menjadi kurang penting. Apalagi dikarenakan ekonomi sedang lesu. Dalam kondisi seperti ini, mempelajari filsafat menjadi penting sebab filsafat mengajak seseorang untuk merefleksikan dan memikirkan ulang soal kehidupan sebelumnya.

“Justru pandemi ini momen yang tepat karena hal-hal yang praktis, mendadak tidak punya makna yang terlalu tinggi (karena ekonomi pun sedang lesu). Ini saatnya orang diajak kembali berpikir yang reflektif dan mendalam,” tulis Syarif.

Kamu tertarik untuk belajar filsafat, Millens? (Gregorius Manurung/E05)