Alfonso Cuaron: Membesut Roma Adalah Pencapaian Terbesar Saya!

Alfonso Cuaron: Membesut <em>Roma</em> Adalah Pencapaian Terbesar Saya!
Alfonso Cuarón bekerja di balik layar film "Roma". (Netflix/Carlos Somonte)

Sineas gaek ini kian menunjukkan tajinya di Academy Awards ke-91 dengan mencapai banyak hal melalui film Roma. Alfonso Cuarón namanya. Penggemar Harry Potter tentu tahu siapa sosok asal Meksiko ini!

Inibaru.id – Enam tahun yang lalu, sosok 57 tahun ini melenggang ke panggung Academy Awards sebagai sutradara terbaik atas karya blockbuster-nya, Gravity (2013). Alfonso Cuarón namanya. Tahun ini dia kembali menapaki panggung yang sama, tapi dengan film yang jauh berbeda, yakni Roma (2018).

Jika berkat Gravity Cauron mendapatkan predikat sineas terbaik Academy Awards 2014, berkat Roma lelaki asal Meksiko itu menyabet lebih banyak piala. Menjadi nomine untuk 10 kategori, Roma meraih tiga di antaranya, yakni Sutradara Terbaik, Sinematografi Terbaik, dan Film Berbahasa Asing Terbaik.

Roma adalah film hitam-putih yang berkisah tentang pergulatan Mexico City pada awal 1970-an dari sudut pandang Cleo, yang diperankan dengan apik Yalitza Aparicio. Cleo adalah seorang asisten rumah tangga muda untuk satu keluarga yang hidup di lingkungan kelas menengah Roma di Mexico City.

Sebelum Academy Award ke-91 digelar pada Minggu (24/2/2019), nggak sedikit kritikus film yang memprediksi kemenangan Roma. Cauron pun mengatakan, film tersebut memang spesial dan dianggapnya sebagai karya terbaik sepanjang karier di industri perfilman.

Adegan dalam film Roma. (Filmlinc)

Cauron mengaku dirinya selalu ingin membuat film yang membuatnya merasa nyaman dengan hasilnya. Nah, inilah yang dialaminya seusai menggarap Roma.

"Pada Roma, saya puas. Saya sangat senang karena inilah film pertama yang mampu mengakomodasi apa yang ingin saya sampaikan di film secara penuh,” tutur Cauron kepada Indiewire (25/7/2018). “Ini adalah cerita dalam berbagai bentuk dan petunjuk emosi yang muncul sejak awal saya ingin jadi sutradara."

Menilik jauh ke awal kariernya di dunia film, Cauron mulai dikenal dalam belantika perfilman internasional setelah membesut A Little Princess (1995) di Amerika. Film itu merupakan adaptasi dari novel klasik karya Frances Hodgson Burnett.

Tiga tahun berselang, lelaki yang pernah menggeluti Filosofi di National Autonomous University of Mexico (UNAM) itu menggarap Great Expectation (1998). Dibintangi Ethan Hawke, Gwyneth Paltrow, dan Robert De Niro, film tersebut merupakan adaptasi literatur karya Charles Dickens yang dibuat lebih modern.

Alfonso Cuaron (tengah) bersama pemain pendukung film Roma, yakni Marina de Tavira (kiri) dan Yalitza Aparicio (kanan). (Joel C Ryan/Invision/AP/Shutterstock/Indiewire)

Menapakkan kaki di industri Hollywood nggak lantas membuat Cauron meninggalkan akar budayanya. Y Tu Mamá También (2001) menjadi pencapaian selanjutnya. Film Meksiko bergenre drama yang digarap bersama saudaranya, Carlos Cauron, itu menjadi nomine Oscars untuk Skenario Asli Terbaik.

Karier Cauron kian mentereng setelah menjadi sosok di balik Harry Potter and the Prisoner of Azkaban (2004), yang konon di tangannya, film waralaba itu bernuansa begitu “gelap”.

Panggung Academy Award kian membuat Cauron diperhitungkan setelah Children of Men (2006) besutannya menjadi nomine untuk dua kategori, yakni Skenario Adaptasi Terbaik dan Penyuntingan Terbaik.

Puncaknya, lelaki yang belajar pembuatan film di Centro Universitario de Estudios Cinematográficos (CUEC) itu meraih gelar Sutradara Terbaik untuk film Gravity. Tentu saja semakin lengkap dengan pencapaian lain melalui Roma.

Hm, kejutan apa lagi yang bakal kamu berikan, Cauron? (IB20/E04)