Absennya Novela dari Pasar Buku di Indonesia adalah Masalah Serius

Jika kamu berkunjung ke toko buku, produk fiksi yang sering ditemui adalah novel atau kumpulan cerpen. Jenis lain yaitu novela sangat jarang ditemui. Kira-kira kenapa ya?

Absennya Novela dari Pasar Buku di Indonesia adalah Masalah Serius
Dari kiri, Ratih Dwi Ramadhany, Reza Nufa, dan Daruz Armedian (moderator) dalam acara diskusi di Ketemu Buku. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Inibaru.id – Novela merupakan prosa rekaan yang lebih pendek dari novel dan lebih panjang dari cerpen. Biasanya terbatas pada satu peristiwa, keadaan, dan tikaian atau disebut juga dengan novelet. Beberapa contoh novela yang beredar di Indonesia seperti Stasiun karya Putu Wijaya, Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono, Rumah Kertas karya Carlos Maria Domiquez, dan lain sebagainya.

Penulis buku Pacarku Memintaku Jadi Matahari, Reza Nufa menjelaskan, berbicara tentang novela bisa sangat luas. Novela lahir saat novel dan cerpen juga lahir. Dari dulu produk tersebut sudah ada, tapi masyarakat Indonesia nggak terbiasa dengan istilah novela.

“Jarang ada penerimaan novela di penerbit. Padahal penulisnya cukup banyak. Novela tipis dan tanggung sekali ukurannya. Bagi penerbit itu sulit dan kita tak terbiasa dengan kategori itu,” kata Reza dalam acara diskusi Novela dalam Sastra Indonesia di Gedung Wanita Semarang, Minggu (3/11).

Peserta diskusi "Novela dalam Sastra Indonesia". (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Sastra terjemahan banyak memberi pengaruh novela yang berkembang di Indonesia. Seperti dalam karya Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta karya Luis Sepulveda dengan gaya penceritaan yang riil dan waktu untuk menghabiskan novela tersebut singkat. Era digital juga dirasa Reza cukup membantu keberadaan novela dengan medianya dapat menampung berbagai macam jenis tulisan.

“Persoalan ketiadaan novela di pasaran itu masalah serius. Masih terkungkung dalam bentuk-bentuk pasaran. Itu mengebiri ide, gagasan, hingga tokoh ketika harus dipanjang-panjangkan,”  ucap laki-laki yang juga editor di penerbit Basabasi Yogyakarta tersebut.

Penulis novela Dwi Ratih Ramadhany menceritakan, dia terbebani dengan kategorisasi novel yang dibatasi jumlah kata. Sebab seorang penulis nggak perlu menulis di luar batas kemampuan dengan memanjang-manjangkan tulisan atau memendek-mendekan tulisan jika itu nggak perlu.

“Saya generasi milenial yang terputus. Saya tak begitu mengenal beberapa karya Umar Kayam yang ternyata novela. Saya bongkar lagi buku dan menemukan buku Kukila karya Aan Mansyur dan Madre karya Dee yang juga novela. Kategorisasi ini bergantung pada pemasaran penerbit, tapi nggak punya media,” katanya.

Seperti dalam novela terbaru Dwi berjudul Silsilah Duka, menurutnya bentuk novela sangat cocok untuk menuangkan gagasannya dalam tulisan. Dalam novela itu Dwi bercerita tentang lingkungannya di Madura dan membahas konflik perempuan yang melawan perempuan. Baik perempuan di ranah domestik maupun publik.

Jadi, apa kamu juga penulis novela, Millens? Susah juga ya mencari penerbit untuk menampung karya jenis ini. Semoga ke depan pembaca Indonesia lebih terbiasa dengan genre ini ya. (Isma Swastiningrum/E05)