Zine yang Masih Memikat Generasi Muda

Zine yang Masih Memikat Generasi Muda
Raihan, kreator Ini Zine sedang membaca kembali koleksi zine-nya sebagai referensi. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung) 

Zine yang sempat ramai di Semarang pada medio 2000-an ternyata masih hidup sampai saat ini lo. April 2019 lalu, festival zine di Semarang yang diberi nama Festival Literasi Aksara, masih dilaksanakan dan dikunjungi banyak anak muda. Apa sih yang masih membuat zine diminati anak muda di era digital seperti sekarang ini?

Inibaru.id - Meski zadul, masih ada beberapa orang yang mempertahankan Zine. Merupakan singkatan dari fanzine atau magazine, zine menjadi media cetak alternatif yang biasanya diterbitkan perseorangan atau kelompok kecil dan direproduksi dengan cara fotokopi.

Dhio Pandji, mahasiswa Antropologi Sosial Universitas Diponegoro, adalah salah satu generasi muda yang masih "percaya" pada zine. Pembuat zine Magabin ini berkata, menulis zine memiliki rasa dan pengalaman berbeda dibandingkan menulis di blog. Menurut Dhio, dia mendapatkan keintiman dengan pembaca ketika membagikan zine yang dia buat.

“Zine-ku kan isinya pandangan aku atas kehidupan dan yang ada di sekitar. Sebelum aku kasih zine-ku ke orang, aku pasti ngobrol dulu dan mencoba mengetahui bagaimana karakter mereka,” ucap pria berkacamata tersebut, Kamis (26/2).

Zine keluaran baru, ada yang menggunakan karakter anime. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)
Zine keluaran baru, ada yang menggunakan karakter anime. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)

Selain itu, Dhio merasa sangat menikmati proses pembuatan zine. Menggambar sampul, membuat kolase untuk keperluan ilustrasi tulisan, memfotokopi hingga menyebarkannya secara mandiri menjadi candu tersendiri bagi Dhio. Meskipun, pendanaan juga ditanggung sendiri.

Perkataan Dhio senada dengan Raihan Rizullah, kreator zine tentang anime di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro. Dia mengatakan kedekatan yang dirasakan dengan pembacanya adalah hal yang selalu dia harapkan dan nikmati ketika menyebarkan zine. Dia juga merasa bisa lebih kreatif ketika membuat zine.

“Zine itu hal yang baru buat saya. Saya menikmati proses berlatih menulis ketika membuat zine dan saya juga suka menggambar. Keduanya ada di zine,” ucap pemuda berkumis tipis ini, Sabtu (29/2).

Raihan membuat Izin (Ini Zine) yang seluruh kontennya berisikan apa-apa saja tentang anime. Raihan juga menghubungkan anime dengan kondisi-kondisi sekitar saat ini seperti tulisannya yang berjudul “Indonesia Butuh Nami” dalam Izin edisi pertama yang melihat peristiwa banjir Jakarta dan menghubungkannya dengan karakter Nami dalam animasi Jepang One Piece.

“Rencananya mau ada edisi kedua yang sedang dalam proses penulisan dan akan fokus ke satu sutradara anime. Mungkin Hayao Miyazaki atau Isao Takahata,” tambah Raihan.

Bagaimana, tertarik membuat zine, Millens? (Gregorius Manurung/E05)