Wisata Alam Belum Ramah Bagi Penyandang Disabilitas

Wisata Alam Belum Ramah Bagi Penyandang Disabilitas
M. Hilal Huda di Roemah Difabel Semarang. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Bisa menikmati tempat rekreasi di berbagai tempat adalah hak setiap orang, nggak terkecuali para penyandang disabilitas. Sayangnya, teman-teman disabilitas ini masih mengalami kesusahan akses terutama untuk wisata alam. Mereka juga sering mengalami drop ketika ada yang melirik dengan tatapan sensi.

Inibaru.id - Para penyandang disabilitas merupakan golongan orang yang jarang keluar dan bepergian. Itu mengapa ketika mereka diajak melihat dunia luar dan berkunjung ke tempat wisata akan sangat senang sekali. Hal inilah yang diungkapkan oleh Sekretaris Roemah Difabel M. Hilal Huda. Baginya, banyak tempat menurut para penyandang disabilitas bagus dikunjungi daripada di rumah saja.

“Rata-rata teman-teman disabilitas jarang keluar rumah. Sekali diajak keluar pasti senang sekali, dengan rasa kegembiaraan karena keluar lingkungan rumah itu sangat indah. Namun dia akan ngedrop lagi saat bertemu dengan orang-orang yang non disabilitas melirik dia. Ada mata yang sensi dan sebagainya,” kisah Huda.

Markas Roemah Difabel. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Kata sensi yang dimaksud Huda adalah ketika teman-teman penyandang disabilitas menjadi pusat perhatian orang dengan semua stigma yang diberikan. Padahal ketika teman-teman disabilitas ini pergi keluar mereka riang sekali.

"Kami di komunitas sendiri kan pernah jalan-jalan naik kereta api dari Semarang-Solo-Jogja. 40 orang. Itu teman-teman yang belum pernah naik kereta api sangat gembira sekali. Kelihatan dari wajahnya. Kita juga membawa teman-teman relawan," ucap laki-laki yang saat ini berkuliah di Universitas Semarang jurusan Akuntansi tersebut.

Huda mengatakan jika wisata Semarang untuk infrastruktur pariwisata masih belum ramah bagi penyandang disabilitas. Hal itu ditunjukkan dengan masih banyaknya anak tangga, belum tersedianya ramp untuk pengguna kursi roda, belum tersedia jalur khusus untuk teman-teman netra, dan untuk fasilitas toilet juga masih belum.

“Kalau standar sendiri kita mengacu pada UU No 8 tahun 2016. Di situ sudah mengatur aksesibilitas suatu tempat, contohnya aja adanya ramp dengan kemiringan tujuh derajat. Untuk toilet sendiri kursi roda bisa masuk, ada pegangan di dalam toilet. Untuk anak tangga diminimalisir, terus lantai jangan yang licin,” kata Huda.

Ramp yang aksesibel bagi penyandang disabilitas. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Sebab itu Huda merasa PR yang perlu diperbaiki bersama masih banyak terkait hal tersebut.

"Belum puas dengan infrastruktur. Nggak di Semarang atau di luar Semarang juga belum. Di Bali pun juga belum. Jogja belum. Candi Prambanan belum, misal di candi di tempat terbuka, kami diberi fasilitas mobil itu belum. Kalau jalan jauh itu kan kecapekan," tambahnya.

Kurangnya akses ini juga dijelaskan oleh Irfan Bagus Fahrudin, seorang tunanetra anggota Roemah Difabel. Menurut Irfan, spot yang belum ramah disabilitas terutama yang bentuknya masih tangga dan wisata-wisata alam. "Pokoknya yang wisata alam itu masih susah. Masih kurang kayak Candi Gedong Songo," katanya.

Semoga ke depan ada perbaikan lebih lanjut ya, Millens. (Isma Swastiningrum/E05)