WHO Anggap Penyemprotan Disinfektan di Jalanan Sebagai Tindakan Konyol

WHO Anggap Penyemprotan Disinfektan di Jalanan Sebagai Tindakan Konyol
Penyemprotan disinfektan di jalanan dilakukan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini (wartatransparansi)

Beragam upaya dilakukan pemerintah demi mengendalikan pandemi Corona. Salah satunya adalah dengan menyemprot disinfektan di jalanan. Hanya, WHO justru menganggap hal ini sebagai cara konyol.

Inibaru.id - Kepala Jaringan Wabah dan Tanggap Darurat Global WHO, Dale Fisher mengungkapkan pandangannya mengenai penyemprotan jalanan dengan disinfektan yang dilakukan di berbagai tempat.

"Mungkin itu dilakukan demi menenangkan masyarakat, saya tidak tahu. Yang jelas, itu adalah hal yang tidak kami rekomendasikan. Kami tidak percaya orang-orang tertular virus dari permukaan tanah (jalanan)," kata Fisher pada Kamis (2/4/2020).

Alih-alih melakukan penyemprotan cairan disinfektan di jalanan, WHO menyarankan agar masyarakat menggalakkan kegiatan cuci tangan dengan sabun.

"Saya lebih menyarankan untuk mencuci tangan dan menjaga jarak. Hal seperti itulah yang merupakan aksi tanggap masyarakat terhadap virus, bukan menyemprotkan klorin di mana-mana," kata Fisher.

Fisher menganggap langkah penyemprotan jalanan dengan disinfektan bisa merugikan kesehatan masyarakat, membuang waktu, dan menghamburkan sumber daya.

"Itu adalah sebuah gambaran konyol di banyak negara," ujarnya.

Bukannya membasmi virus corona, penyemprotan disinfektan di jalanan justru bisa meracuni manusia.

"Saya tidak percaya itu bisa mencegah Covid-19 dan bisa beracun bagi masyarakat. Virus itu tidak akan bertahan lama di lingkungan dan orang-orang pada umumnya juga tidak menyentuh permukaan (tanah/jalanan)," terang Fisher.

Penyemprotan cairan disinfektan di jalan. (Antara Foto).
Penyemprotan cairan disinfektan di jalan. (Antara Foto).

Sependapat dengan WHO, Peneliti dari Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) Tiongkok, Zhang Liubo, bahkan mewanti-wanti masyarakat nggak sering-sering menyemprotkan disinfektan. Soalnya, cairan disinfektan bisa berbahaya bagi manusia bila kelewat banyak masuk ke tubuh.

"Menyemprot desinfektan dalam area yang luas dan terus-terusan bisa bikin polusi lingkungan dan harus dihindari," ungkap Zhang

Penyemprotan desinfektan telah dilakukan di banyak wilayah di Indonesia.

Pada 22 Maret 2020, Pemprov DKI Jakarta sebagai zona merah Covid-19 di negeri ini , menyemprot jalanan di lima wilayah kota dengan disinfektan. Sehari setelahnya, Pemkot Surabaya juga mengerahkan drone untuk menyemprot disinfektan di jalan dan di kampung-kampung padat penduduk.

Sementara itu, pada 27 Maret 2020, Polda Bali mengerahkan truk water cannon berkapasitas 5.000 liter untuk menyemprot Jalan WR Supratman Denpasar dengan cairan tersebut. Empat hari setelahnya, Pemprov Jawa Barat juga melakukan penyemprotan di Jalan Soekarno-Hatta, Bandung dan 750 lokasi lainnya di Jawa Barat secara serentak.

Kapolri Jenderal Idham Azis juga telah mewajibkan seluruh jajaran kepolisian di Indonesia untuk melakukan penyemprotan disinfektan di seluruh daerah. Perakitan 40 alat penembak (gunner) juga sedang dilakukan. Nantinya, armada gunner ini akan dipakai untuk menyemprot jalanan di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi.

Selain di Indonesia, penyemprotan disinfektan ternyata juga dilakukan di negara-negara lain seperti India, Meksiko, dan Turki. Hal ini juga dilakukan sebagai penanganan Covid-19.

Menurut kamu, penyemprotan disinfektan di jalanan sebenarnya perlu untuk dilakukan nggak sih, Millens? (Det/MG29/E07)