Waisak dalam Pandemi, Ibadah Bisa Dilakukan dari Rumah dengan Cara Ini

Waisak dalam Pandemi, Ibadah Bisa Dilakukan dari Rumah dengan Cara Ini
Ilustrasi ibadah mandiri bersama keluarga. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Perayaan Waisak tahun ini tampaknya tak seramai biasanya akibat adanya pandemi. Dari rumah, para umat Buddha bisa merayakan waisak dengan cara-ini. Apa saja?

Inibaru.id - Nggak cuma bikin kegiatan sosial terhambat, pandemi juga bikin kegiatan keagamaan sedikit tersendat. Beberapa waktu yang lalu, misa peringatan wafatnya Isa Almasih dilakukan secara daring. Kini Perayaan Waisak nampaknya juga harus dilaksanakan dari rumah masing-masing.

Hal ini disampaikan oleh Daryono, pengurus Wihara Buddhadipa Pakintelan. Perayaan Waisak pada tahun ini harus dilakukan secara sederhana dari rumah masing-masing mengacu pada imbauan Binmas Buddha Kemenag RI.

“Karena ada instruksi dari Dirjen Binmas Buddha Kemenang bahwa waisak dilaksanakan di rumah masing-masing karena pandemi,” tutur lelaki yang juga menjadi guru agama Buddha ini.

Kompak dengan Daryono, Biksu Khemacaro Mahathera juga mengungkapkan bahwa perayaan Waisak tahun ini nggak sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Dulu, setiap perayaan Waisak setidaknya 1000 orang datang. Tapi kali ini perayaan Waisak di wihara bakal dirayakan oleh pengurus internal saja.

“Karena wabah, hanya keluarga yang ada di dalam wihara saja sekitar 4 bikku dan 10 umat yang melakukan puja bersama,” tutur lelaki yang merupakan Kepala Vihara Gunungpati sekaligus Ketua Umum Sangha Agung Indonesia.

Merayakan Waisak di Rumah Masing-Masing

Wahyudi saat beribadah sendiri. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)
Wahyudi saat beribadah sendiri. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Perayaan Waisak dilakukan dengan tiga kegiatan yaitu berupa puja bersama, meditasi serta ceramah. Namun karena larangan berkumpul, ketiganya dilakukan dari rumah masing-masing bersama dengan keluarga. Hal ini disampaikan oleh Pandita Muda Dhammatejo Wahyudi A R.

Menurutnya kondisi ini menyebabkan peniadaan puja bakti atau kunjungan ke candi secara massal. Namun hal tesebut bukan menjadi masalah karena masalah ibadah berupa puja bakti dan meditasi bisa dilakukan secara mandiri. Untuk ceramah, masyarakat bisa menyaksikannya lewat TVRI, DAAITv atau media sosial.

“Gantinya biksu dan pandita mengadakan perayaan secara daring yang bisa disaksikan lewat televisi dan media sosial,” tutur Ketua PC Majelis agama Buddha Theravada Indonesia Kota Semarang ini.

Jika masyarakat tak punya media untuk menyaksikan ceramah, menurut Wahyudi hal ini bisa dilakukan secara mandiri dengan sesepuh di rumah sebagai pengisi ceramah. Pun jika ceramah tak bisa dilakukan, tak jadi masalah.

Kemeriahan perayaan Waisak di Borobudur pada 2018. (Inibaru.id/ Hayyina Hilal)<br>
Kemeriahan perayaan Waisak di Borobudur pada 2018. (Inibaru.id/ Hayyina Hilal)

Melihat hal ini tentu ketiganya merasa prihatin dan berharap wabah segera berakhir dengan mematuhi imbauan pemerintah agar tetap beribadah dari rumah. Biksu Khemacaro misalnya, dia mengatakan bahwa perayaan Waisak dalam pandemi ini menjadi momen untuk merekatkan diri pada kehidupan spiritual.

“Di masa seperti ini, masyarakat Buddha bisa membangkitkan diri bahwa peristiwa seperti ini merekatkan diri terhadap kehidupan spiritual serta penghormatan dan bakti yang lebih layak kepada Tuhan dan sesama,” tuturnya.

Selamat Tahun Baru Waisak 2564 BE untuk kamu yang merayakan ya, Millens! (Zulfa Anisah/E05)