Lala Timothy: Film Indonesia Makin Dilirik Produser Hollywood

Lala Timothy: Film Indonesia Makin Dilirik Produser Hollywood
Lala Timothy. (Kompas/Yuniadhi Agung)

Presiden Direktur LifeLike Pictures Lala Timothy mengatakan film Indonesia semakin dilirik produser Hollywood. Ini lantaran film-film Indonesia punya cita rasa lokal yang kuat dan berpotensi berkembang.

Inibaru.id – Presiden Direktur LifeLike Pictures sekaligus produser Lala Timothy mengungkapkan perfilman Indonesia semakin dilirik produser Hollywood. Cita rasa konten lokal yang kuat dalam film Indonesia adalah penyebabnya. Selain itu, Indonesia juga punya populasi besar sehingga berpotensi lebih berkembang.

"Bukan hanya sebagai lokasi untuk memasarkan film mereka, tapi mereka juga tertarik untuk bekerja sama dengan produser lokal. Karena untuk masuk ke tiap-tiap negara mereka butuh touch dari lokal taste-nya masing-masing negara," kata Lala Timothy dalam sesi wawancara di Tokopedia Tower, seperti ditulis Medcom.id, Sabtu (30/3/2019).

Kerja sama itu dilakukan sebagai bentuk pendekatan antara produser luar dengan produser Indonesia. Salah satu contohnya yakni kerja sama penggarapan film Wiro Sableng antara LifeLike Pictures dengan 20th Century Fox. Lalu, garapan sutradara Joko Anwar dengan Ivanhoe Pictures untuk tiga proyek, serta film Marlina yang sukses berkeliling di festival dilm dunia.

Ketertarikan insan film Hollywood terhadap film Indonesia itu bermula saat film The Raid rilis. Film arahan sutradara Gareth Evans itu menyuguhkan gaya film aksi yang mengusung ilmu bela diri silat khas Indonesia. Nilai lokal yang kuat terlihat dalam film ini.

Inilai yang membuat studio Hollywood melirik Indonesia. Bahkan, dibanding film-film Tiongkok, mereka lebih menyukai film Indonesia.

"Dan jangan lupa The Raid itu membuka banyak sekali peluang film Indonesia. Kenapa? Karena dengan action dia membawa martial art Indonesia yaitu pencak silat dikenal luas. Indonesia seperti memiliki style film action sendiri. Sekarang ada (film laga Indonesia) The Night Comes for Us yang menjadi original Netflix dan sebagainya," ungkap Lala.

Lebih lanjut, Lala juga menuturkan suasana perfilman Indonesia belakangan tengah diterpa angin segar. Ini terjadi sejak pemerintah mulai membuka Daftar Negatif Investasi pada 2015 pada industri perfilman.

Kendati begitu, Indonesia perlu banyak berkaca pada konten cerita produksi Korea dan Thailand yang filmnya diterima pasar dengan cepat. Film dari kedua tersebut mampu menyuguhkan genre universal yang dapat diterima semua penonton tanpa dibatasi bahasa dan budaya dengan baik.

“Jadi film fantastik seperti action, horor itu paling mudah. Karena tanpa mengerti bahasanya pun, action, contohnya The Raid, orang bisa paham. Negara mana pun bisa menikmati action tersebut," ujar Lala.

Lain halnya dengan Korea yang lebih banyak menyuguhkan konten cerita drama. Ini karena Korea dinilai memiliki struktur penulisan naskah yang baik sehingga genre drama, sejarah, bahkan komedi dapat diterima juga di pasar dunia.

“Itu yang perlu kita pelajari. Struktur penceritaan, pembabakan dia di mana,” pungkas Lala.

Kans Indonesia di dunia perfilman dunia cukup besar nih, Millens. Semoga semakin banyak film Indonesia yang mendunia, ya! Eh, by the way, selamat Hari Perfilman Nasional. (IB07/E04)