Wadah Aktualisasi Sineas Dokumenter

Wadah Aktualisasi Sineas Dokumenter
media massa (Foto: google)

inibaru.id - Memahami kebutuhan dan segmentasi masyarakat yang beragam terhadap media massa, Metro TV dianggap mampu menjawab tantangan atas kebutuhan tersebut. Mengapa demikian? Ditengah maraknya pemberitaan terhadap kasus kriminalitas, politik serta ekonomi di Indonesa, Metro TV mampu mencuri celah dengan mengangkat tayangan-tayangan yang inspiratif. Misalnya melalui program Eagle Award Documentary Competition (EADC).

Eagle Awards merupakan program penghargaan yang mengolaborasikan antara pendidikan, karya, dan kompetisi. Menariknya, melalui program Eagle Awards ini Metro TV memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi anak-anak muda yang kreatif untuk kritis terhadap sebuah fakta peristiwa serta terhadap sebuah masalah yang terjadi di dalam masyarakat luas. Sehingga fakta tersebut dapat menjadi sebuah informasi dan inspirasi perubahan.

Misalnya film dokumenter karya sutradara Yonri Susanto dan Febian Kikisina Mama Amamapare. Film Mama Amamapare ini berhasil keluar sebagai film terbaik Eagle Awards Documentary Competition dengan tema “Indonesia Sehat” 2016 lalu. Sang sutradara mengaku mempersembahkan kemenangan mereka tersebut untuk rakyat Papua.

Film Mama Amampare sendiri mengisahkan tentang peran mama Yakoba yang membantu proses persalinan di daerah Amampare, Timika, Papua. Mama Yakoba tetap memberikan pelayanan sejauh yang ia bisa lakukan kepada masyarakat ditengah keterbatasan.

Melaui film ini, Yonri dan Febian ingin menyampaikan pesan kepada pemerintah untuk dapat segera memberikan perbaikan pelayanan kesehatan di Papua. Juga daerah-daerah pelosok lain yang hingga saat ini masih membutuhkan uluran tangan pemerintah.

Eagel Award kali pertama diselengarakan pada 2005. Hingga di usianya menuju 12 tahun ini, EADC masih masih menjadi ruang aktualisasi bagi bagi anak muda untuk menghasilkan cerita inspiratif dari berbagai sudut pandang yang unik dan tegas.

Selain itu, Metro TV sebagai pihak penyelenggara memiliki tujuan besar yakni mendorong industri film dokumenter Indonesia dan menghasilkan sineas muda dokumenter yang berbakat. Sehingga dalam mewujudkan tujuannya tersebut Metro TV tidak hanya berhenti pada tahap pemberian penghargaan saja. Akan tetapi Metro TV juga memiliki komitmen dalam mendistribusikan film yang telah selesai digarap ini keberbagai festival nasional dan Internasional.

Contoh saja “Gorila dari Gang Buntu”, salah satu film dari Eagle Awards. Film ini berhasil menjadi kategori Film Dokumenter Pendek terbaik di Festival Film Dokumenter 2009. Tidak hanya berhasil masuk dalam penghargaan nasional, beberapa film dari Eagel Awards juga mendulang sukses dalam kancah internasional.

Misalnya pada Balinale Internasional Film Festival 2008. Dalam festival ini, 5 film Eagel Awards produksi tahun 2007 dan 2008 turut diputar. Diantaranya, film Kepala Sekolahku Pemulung, Buah yang Menunggu Mati, Helper Hongkong Ngampus, Pulau Bangka Menangis dan Prahara Tsunami Bertabur Bakau.

Bahkan Calude Threretz, sineas dokumenter dari prancis yang turut hadir dalam festival tersebut merasa tertarik dan berencana mereview film dari Eagel Awards sehingga dapat diputar secara nasional dalam salah satu televise dinegaranya.

Pencapaian-pencapaian diatas menunjukkan bahwa Metro TV sebagai televisi swasta nasional sekaligus pemrakarsa program Eagel Awards di Indonesia tidak hanya menyuguhkan tayangan yang monoton seputar politik, ekonomi, life style. Akan tetapi juga memberikan tayangan berupa kritik, inspirasi serta memberi kontribusi terhadap perkembangan dunia perfilman Indonesia. (NA)