Wacana Pembelajaran Tatap Muka Mengemuka, Lestari Moerdijat: Persiapkan Secara Rinci!

Wacana Pembelajaran Tatap Muka Mengemuka, Lestari Moerdijat: Persiapkan Secara Rinci!
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menyoroti pentingnya persiapan pembelajaran tatap muka di sekolah-sekolah demi mencegah penyebaran Covid-19. (Inibaru.id) 

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menanggapi wacana pembelajaran tatap muka di sekolah yang dilontarkan sejumlah daerah. Menurutnya, pembelajaran yang rencana bakal dimulai Juli 2021 harus dipersiapkan secara rinci, jangan sampai justru menjadi pemicu munculnya klaster Covid-19.

Inibaru.id – Wacana untuk kembali menerapkan pembelajaran tatap muka di sejumlah daerah mulai Juli 2021 mendapat sorotan Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat. Menurutnya, proses belajar tatap muka di sekolah harus benar-benar dipersiapkan secara rinci.

Persiapan tersebut, lanjutnya, terutama pada faktor-faktor kesehatan dan keamanan peserta didik dan pengajar saat melakukan kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah.

“Uji coba harus benar-benar dipersiapkan gimana teknisnya, termasuk kesiapan dari para pelaksana di lapangan," kata perempuan yang akrab disapa Rerie ini, Senin (15/3/2021). "Jangan sampai kebijakan tersebut menjadikan sekolah sebagai klaster baru penyebaran Covid-19.”

Euforia kembali ke sekolah memang mulai terasa. Sebagian pengajar dan orang tua murid juga telah berwacana, bahkan mulai diterapkan, salah satunya di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang telah melakukan uji coba pembelajaran tatap muka di sekolah per Senin, 15 Maret 2021, kemarin.

Berkaitan dengan ini, politikus Partai NasDem itu mengingatkan, euforia ini sebaiknya nggak menjadi alasan untuk melonggarkan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Covid-19. Rerie pun mencontohkan kemunculan klaster sekolah di Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat.

Perlu kamu tahu, sebanyak 20 orang yang terdiri atas pengajar dan siswa di sebuah sekolah di Tamansari terkonfirmasi positif Covid-19. Mereka diduga terpapar virus corona setelah melakukan pembelajaran tatap muka di sekolah.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya Asep Hendra pada Minggu (14/3) mengungkapkan, klaster ini diduga muncul lantaran ada seorang guru yang tetap datang ke sekolah meski mengalami gejala layaknya pilek, demam, dan batuk-batuk, yang ternyata positif Covid-19.

Menurut Rerie, pembelajaran tatap muka di sekolah nggak cukup dengan menyiapkan fasilitas mencuci tangan, sabun, masker, atau memberi jarak di dalam kelas, tapi juga harus memastikan para siswa, pengajar, dan staf sekolah, disiplin menerapkan protokol kesehatan.

Dia juga meminta para pemangku kepentingan di sekolah, termasuk Kemendikbud, memastikan adanya penerapan standar kesehatan yang ketat di sekolah. Tujuannya, tentu saja demi mencegah penularan Covid-19.

Pembelajaran tatap muka di sekolah memang sebaiknya dipersiapkan lebih detail. Kalau belum betul-betul matang, mundur selangkah untuk maju berlipat-lipat langkah justru lebih baik, bukan? (IB09/E03)