Umat Lintas Agama Semarang Ikuti Halalbihalal dan Peringati 3 Tahun Perjuangan Lawan Intoleransi

Umat Lintas Agama Semarang Ikuti Halalbihalal dan Peringati 3 Tahun Perjuangan Lawan Intoleransi
Peserta halalbihalal Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) pada Kamis (20/6/2019). (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Ada yang berbeda di aula Gereja Keluarga Kudus Atmodirono, Kamis (20/6/2019) lalu. Ratusan umat dari berbagai agama tampak berkumpul untuk saling memaafkan a.k.a halalbihalal dalam tradisi Muslim di Indonesia. Acara itu juga digelar sekaligus sebagai perayaan hari jadi ke-3 Persaudaraan Lintas Agama (Pelita).

Inibaru.id - Tak terasa, sudah tiga tahun Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) aktif berkontribusi meredam intoleransi di Kota Semarang. Merayakan hari jadinya yang ke-3, para muda Pelita sekaligus menggelar perayaan di Aula Gereja Katolik Keluarga Kudus Atmodirono Semarang, Kamis (10/6/2019).

Lantaran masih dalam suasana Lebaran, perayaan yang juga dihadiri para pemuka dan peserta lintas agama dan kepercayaan di Kota Semarang itu juga sekaligus dijadikan sebagai ajang halalbihalal. Acara yang bertempat di Jalan Atmodirono No 8, Kelurahan Wonodri, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, itu pun berlangsung khidmat.

Tanpa canggung, seluruh peserta tampak saling bercengkerama. Suasana itu bertambah hangat dengan iringan keroncong dari gereja.

Acara berlangsung hangat dengan iringan keroncong dari gereja setempat. Jauh dari kesan hura-hura, acara ini penuh dengan refleksi makna keberagaman. Tujuh pemuka agama dan kepercayaan yang hadir juga turut memberikan testimoni terhadap kontribusi Pelita dalam meredakan berbagai fenomena intoleransi di Kota Semarang.

Peserta diajak bernyanyi oleh grup musik gereja setempat. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Pendeta Kristen Unitarian Arianto Nugroho mengungkapkan bahwa Pelita adalah wadah bagi pemuda yang nggak meninggalkan sisi sosial dan kebangsaan dalam beragama.

Sepakat dengan hal tersebut, para pemuka agama lain yang mewakili peserta pun menyatakan bahwa Pelita adalah wadah untuk menjaga kesatuan dalam bingkai keberagaman.

Lagu Nasional

Guna memupuk nasionalisme, acara juga diselingi dengan sejumlah nyanyian lagu nasional. Dengan diiringi saksofon dan diterangi cahaya lilin yang menyala temaram, para peserta turut larut dalam lagu-lagu pembangkit persatuan tersebut. Duh, benar-benar bikin merinding mendengarnya!

Menuju acara inti, para peserta serta seluruh pemuka agama saling bersalaman. Sejumlah peserta muslim bahkan nggak segan mencium bolak-balik tangan pemuka agama lain seperti yang mereka lakukan terhadap para kiai junjungan mereka.

Pemuka agama dan kepercayaan memimpin renungan. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Setiawan Budi, Koordinator Pelita, dalam kesempatan itu berharap, tahun ini dan seterusnya nggak ada lagi peristiwa intoleransi di Semarang.

“Semoga semakin kondusif, “ tuturnya.

Menurutnya, intoleransi di pada 2018 dan awal 2019 di Kota Semarang menunjukkan penurunan. Hal ini, lanjutnya, tentu menjadi kabar baik bagi Pelita yang nggak pernah absen mengawal kasus intoleransi, khususnya di Kota Semarang.

Damailah Semarang! Semoga kerukunan antarumat beragama seperti ini nggak pernah pudar ya, Millens! (Zulfa Anisah/E03)