Ubah Musibah Jadi Berkah, Cara Pengelolaan Air Raja-Raja Jawa Ini Layak Ditiru

Ubah Musibah Jadi Berkah, Cara Pengelolaan Air Raja-Raja Jawa Ini Layak Ditiru
Penguasa Jawa punya cara jitu mengelola air. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Di zaman kerajaan dulu, para penguasa Jawa ternyata cermat dalam hal pengelolaan air. Mereka mampu mengubah musibah jadi berkah. Seperti apa ya cara mereka melakukannya?

Inibaru.id - Belakangan ini, kabar tentang musibah yang terkait dengan air terjadi di banyak tempat di Indonesia. Kita seperti nggak mampu melakukan pengelolaan air dengan bijak. Padahal, jika mau menilik sejarah, para penguasa Jawa di zaman kerajaan mampu mengubah air yang berpotensi memicu musibah menjadi berkah. Dampaknya, rakyat pun jadi sejahtera.

“Purnawarman membuktikan itu dengan mengendalikan dan mengatur air untuk kesejahteraan rakyat,” kata sejarawan JJ Rizal.

Hampir semua penguasa Jawa mungkin menerapkan kebijakan seperti yang dilakukan Purnawarman. Hal itu dijelaskan oleh Denys Lombard yang menunjukan prasasti-prasasti yang membuktikan raja-raja di Jawa memang memperhatikan pengelolan air dengan baik.

“Yang terang menyebut (pengelolaan air) prasasti di Jawa Timur. Kalau Jawa Tengah nggak menjelaskannya,” ujarnya.

Di Jawa Timur, proyek pengelolaan air paling tua berada di hulu Kali Konto yang bersumber di lereng Gunung Kawi dan mengalir ke barat sampai bermuara di Kali Brantas, di utara Kertosono. Sementara menurut Prasasti Harinjing yang bertarikh 921, disebutkan bahwa kepala desa memerintahkan penggalian sebuah saluran dan membangun sebuah tanggul (dawuhan) di salah satu anak kali Konto.

Pengelolaan air terpatri di dalam prasastri-prasasti di Pulau Jawa. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)<br>
Pengelolaan air terpatri di dalam prasastri-prasasti di Pulau Jawa. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Ada sistem irigasi yang dibangun di Kali Pikatan yang mengalir dari lereng Gunung Welirang ke arah barat laut dan bermuara di Kali Brangkal, salah satu anak Sungai Brantas. Keterangan itu termaktub dalam Prasasti Sarangan yang berasal dari pemerintahan Mpu Sindok, raja pertama kerajaan Medang pada 929.

“Menurut Prasasti Bakalan yang dibuat Rakryan (pemimpin) dari Mangibil pada 934, daerah itu dikembangkan pada awal abad ke-10,” tulis Lombard.

Prasasti itu juga menyebut persawahan yang dirancang secara sistematis. Disebutkan pula pembangunan tiga bendungan di kali-kali kecil yang mengalir dari Gunung Welirang. Dibangun pula sebuah waduk besar berukuran 175 x 350 m dengan kapasitas menampung air hingga 350.000 m3.

Hanya, menurut Wanny Rahardjo Wahyudi dari Universitas Indonesia dalam laporan penelitian berjudul Pengelolaan Air di Bekas Kota Majapahit, catatan sejarah tersebut nggak didukung oleh data arkeologis yang lengkap.

“Sehingga gambaran tentang pengelolaan air pada masa tersebut dapat dikatakan masih belum jelas,” tambahnya.

Belajar dari Majapahit

Kerajaan Majapahit mungkin bisa dijadikan contoh bagaimana pemerintah serius mengendalikan air agar bisa bikin sejahtera rakyatnya. Menurut data arkeologis, bekas pusat kerajaan Majapahit berdiri di Trowulan.

Secara geografis, wilayah ini terletak di dataran yang bergelombang dengan ketinggian 30-40 meter di atas permukaan laut (mdpl). Wilayah ini dikelilingi punggung-punggung bukit, gunung berapi, dan lembah-lembah yang lebar. Umumnya membujur ke arah utara. Para ahli menyebutnya sebagai kipas aluvial Jatirejo.

Candi Tikus. (CommonsWikimedia)<br>
Candi Tikus. (CommonsWikimedia)

Tiap musim hujan, material vulkanik dari pangkal kipas itu tercurah melalui sungai-sungai yang mengalir di pusat kerajaan. Curahan itu bikin air sungai meluap dan banjir. Namun, penguasa Majapahit nggak hilang akal untuk mengatasinya.

Dalam rentang 1293-1500, penguasa Majapahit membangun sejumlah waduk, kolam buatan, kanal, saluran air kecil, bak air, dan sumur. Keterangan tentang berbagai hal tersebut termaktub dalam Prasasti Kandangan yang bertarikh 1350. Salah satu pembangunan waduk yang terkait dengan pembangunan-pembangunan itu adalah “Candi Tikus”.

Waduk tersebut disebut candi karena di tengah waduk itu memang berdiri candi. Fungsinya sebagai bendungan dan simbolisasi Gunung Meru yang mengucurkan air dari puncaknya. Simbolisasi ini penting dan bagian tak terpisahkan dari kebudayaan Jawa.

Selain membuat bendungan, penguasa Majapahit juga membentuk satuan pengelola air yang disebut dengan huluair. Tugasnya nggak lain untuk mengairi perasawahan. Fungsinya nggak jauh beda dengan klian subak di Bali.

“Dengan menjamin bahwa air itu terbagi rata, raja memastikan kesejahteraan umum,” tulis Lombard.

Pengelolaan air memang sangat penting demi mencegah terjadinya bencana, termasuk dalam hal memastikan masyarakat bisa mendapatkan air untuk dikonsumsi dengan cukup. Lantas, apakah menurutmu hal ini sudah dilakukan dengan benar sekarang, Millens? (His/IB28/E07)