Tujuh Anggota Geng 69 Semarang Ditetapkan Sebagai Tersangka

Tujuh Anggota Geng 69 Semarang Ditetapkan Sebagai Tersangka
Anggota Geng 69 yang ditangkap anggota Polsek Tembalang, Semarang. (Ahmad Khoirul Asyhar/metrojateng.com)

Tujuh dari 19 anggota geng 69 yang ditangkap polisi di Kota Semarang ditetapkan sebagai tersangka penganiayaan dan pengeroyokan dengan senjata tajam.

Inibaru.id – Sebanyak tujuh anggota geng 69 yang meresahkan masyarakat Semarang beberapa hari terakhir karena melakukan pengeroyokan dan penganiayaan dengan memakai senjata tajam ditetapkan sebagai tersangka. Mereka adalah YMI (17 tahun), DWA (18), GAP (19), FAP (17), FA (17), RNR (18), serta AIP (16).

Merdeka.com, Jumat (8/2/2019) menulis, korban penganiayaan yang harus dilarikan ke rumah sakit akibat aksi geng 69 adalah Mohamad Rizal (15), warga Meteseh, Kota Semarang. Korban yang melintas dengan sepeda motor seorang diri di Jalan Sambiroto mengalami luka parah akibat dibacok oleh tersangka.

“Dari 19 orang yang kami amankan, hanya tujuh yang terlibat pembacokan sehingga dijadikan tersangka. Mereka tidak ditahan karena faktor usia dan statusnya yang masih pelajar. Kami juga langsung melakukan pembinaan kepada mereka,” terang Kapolsek Tembalang Kompol Budi Rahmadi.

Beberapa hari terakhir, masyarakat Semarang diresahkan dengan sekelompok pemuda yang melakukan pembacokan di beberapa wilayah. Mereka bahkan nggak segan melukai korban dengan senjata tajam. Modus para pelaku juga cukup sadis karena langsung membacok orang yang dianggap berasal dari kubu lawan begitu saja.

“Mereka tanpa basa-basi langsung membacok korban,” lanjutnya.

Setelah melakukan pendalaman, dihasilkan fakta bahwa pelaku ini selalu berkumpul sebelum beraksi. Mereka juga mengunggah foto di media sosial demi memancing emosi geng lain.

“Foto-fotonya di media sosial isinya membawa senjata tajam dan menantang geng lain untuk tawuran,” ucap Kompol Budi.

Para anggota geng yang membawa celurit dan parang sambil membawa sepeda motor ini ternyata sedang mencari jati diri sekaligus menunjukkan nyali.

“Mereka ingin mengetes nyali melawan geng musuh. Padahal, Geng Bradil yang merupakan musuhnya sudah ditangkap aparat Polrestabes Semarang dahulu,” jelasnya.

Salah seorang tersangka, DWA, mengaku berkali-kali membacok korban dengan parang bersama dengan teman-temannya.

“Saya bacok berkali-kali di seluruh tubuh. Ikut geng ini karena suka tawuran,” aku remaja yang masih bersekolah di kelas X di sebuah SMK di Kota Semarang ini.

Semoga kejadian ini nggak terjadi lagi ya dan para pelaku bisa kembali ke jalan yang benar mengingat masa depan mereka masih panjang. Betul nggak, Millens? (IB09/E05)