Trauma Anak Penyintas Kekerasan Nggak Mudah Hilang

Kekerasan terhadap anak dapat menimbulkan rasa trauma yang berkepanjangan. Meski telah mendapat terapi atau pengobatan, trauma yang dialami anak penyintas kekerasan nggak bisa hilang sepenuhnya. Beberapa dari mereka bahkan dapat mengalami trauma seumur hidup.

Trauma Anak Penyintas Kekerasan Nggak Mudah Hilang
Ilustrasi kekerasan pada anak. (Dailymail)

Inibaru.id – Kisah AU (14) belakangan ini menjadi perbincangan hangat di dunia maya. Siswi SMP asal Pontianak, Kalimantan Barat itu baru saja mengalami perundungan dari 12 siswi SMA yang berujung pada kekerasan dan pelecehan seksual.

Tagar #JusticeForAudrey pun ramai di media sosial untuk semata-mata menuntut keadilan pihak yang berwajib atas kasus ini. Gelombang dukungan untuk AU pun datang dari para warganet hingga Youtuber seperti Atta Halilintar hingga Awkarin.

Bagi orang dewasa saja, hidup sebagai penyintas kekerasan bukanlah hal yang mudah. Terlebih sang korban saat ini masih remaja, bisa dipastikan hal ini lebih sulit.

Menurut salah seorang psikolog anak Novita Tandry, kekerasan yang dialami seorang anak baik fisik, psikis, maupun seksual akan berpengaruh terhadap kehidupan mereka seumur hidup.

"Setiap kekerasan dan trauma yang diterima seorang anak akan membekas seumur hidup. Trauma healing, konseling, terapi, hingga rehabilitasi tidak akan membuat anak normal seperti semula," kata Novita seperti ditulis laman Medcom, (19/2/2018).

Anak penyintas kekerasan dapat mengalami trauma berkepanjangan. (Shutterstock)

Trauma yang berkepanjangan akan dialami anak penyintas kekerasan. Detail kejadian dapat terus terekam dalam ingatan dan membangkitkan luka lama. Trauma tersebut juga nggak bisa dianggap sepele, Millens.

Anak penyintas kekerasan juga perlu mendapatkan terapi dan konseling meski hanya untuk mengurangi trauma yang dia alami. Jika tidak, dikhawatirkan anak penyintas kekerasan dapat mengalami trauma berat berkepanjangan dan berpotensi menjadi pelaku kekerasan pula di kemudian hari.

Selain terapi dan konseling dari ahli, lingkungan terdekat anak penyintas kekerasan juga harus mendukung proses pemulihannya dari trauma. Yap, keluarga dan kerabat terdekat harus mampu menciptakan ruang yang nyaman dan aman bagi anak penyintas kekerasan.

Lingkungan yang nyaman dan kondusif dapat membantu proses pemulihan anak penyintas kekerasan. (Getty Images)

Dukungan dari lingkungan terdekat dapat mempercepat proses pemulihan anak penyintas kekerasan. Si anak pun nggak akan kehilangan rasa percaya diri karena dia merasa tetap disayangi dan diperhatikan.

Untuk alasan apapun, kekerasan terhadap anak nggak bisa dibenarkan ya, Millens. Rasa trauma yang dialami anak penyintas kekerasan juga nggak bisa dianggap remeh. Yuk, lebih peka dengan lingkungan sekitar! (IB10/E04)