Tiongkok Paksa Perempuan Uighur Pakai KB, Nasib Malang Suku ini Jadi Perhatian Paus Fransiskus

Tiongkok Paksa Perempuan Uighur Pakai KB, Nasib Malang Suku ini Jadi Perhatian Paus Fransiskus
Paus Fransiskus mendapatkan kritik dari Pemerintah Tiongkok karena membela Muslim Uighur. (Flickr/Koreanet)

Bersama dengan kaum Rohingya dan Yazidi, Paus Fransiskus menyebut Muslim Uighur sebagai orang-orang yang dipersekusi dan menderita. Pernyataan Paus ini ternyata membuat Pemerintah Tiongkok bak kebakaran jenggot.

Inibaru.id – Pemimpin umat Katholik Paus Fransiskus baru-baru ini mendapatkan kritik dari pemerintah Tiongkok karena membela Muslim Uighur. Dia menyebut kelompok minoritas di Provinsi Xinjiang ini mendapatkan persekusi di buku berjudul Let Us Dream: The Path to a Better Future.

Dalam buku tersebut, paus menulis “Saya sering memikirkan orang-orang yang dipersekusi: Rohingya, Uighur yang malang, Yazidi.” Khusus untuk kelompok Rohingya, Paus memang sempat mengungkapkan penderitaan mereka yang harus kabur dari Myanmar. Sementara orang-orang Yazidi dibunuh oleh ISIS.

“Pernyataan Paus tentang komunitas Uighur tidak berdasar,” kritik Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Zhao Lijian pada Selasa (24/11/2020).

Selain Muslim Uighur, Paus juga membahas penderitaan kaum Yazidi dan Rohingya. (Flickr/ Long Thiên)
Selain Muslim Uighur, Paus juga membahas penderitaan kaum Yazidi dan Rohingya. (Flickr/ Long Thiên)

Zhao bahkan menyebut masyarakat Xinjiang menikmati kemakmuran yang terbaik dalam sejarah. Semua kelompok etnik bisa hidup dengan tenang menikmati pembangunan.

Meski begitu, telah banyak tokoh agama, organisasi HAM, hingga sejumlah pemerintah negara yang menuding Muslim Uighur memang sedang mengalami kejahatan kemanusiaan. Ada laporan yang menyebut Tiongkok menahan sekitar 1 juta orang Uighur di kamp re-edukasi. Ada juga yang menyebut perempuan Muslim Uighur dipaksa memakai alat kontrasepsi demi mengendalikan laju kenaikan jumlah penduduk.

Pemerintah Tiongkok memang nggak membantah soal pengiriman sejumlah orang ke kamp pusat re-edukasi. Mereka menyebut hal ini demi melawan terorisme dan separatisme di wilayah tersebut.

Warga Uighur secara etnik dan kultur berbeda dari Tiongkok. (Flickr/

Richard Weil)
Warga Uighur secara etnik dan kultur berbeda dari Tiongkok. (Flickr/ Richard Weil)

Uighur memang sangat berbeda dari masyarakat Tiongkok pada umumnya, secara kultur dan etnik, mereka lebih dekat dengan negara Asia Tengah. Di Xinjiang, 11 juta orang atau 45 persen dari total populasinya adalah Muslim Uighur. Meski Xinjiang diberi hak otonomi, Tiongkok disebut-sebut sangat mengekang Muslim Uighur seiring dengan semakin banyaknya etnis Han mayoritas yang menetap di wilayah tersebut.

Pada 2018, Organisasi PBB sempat meminta pemerintah Tiongkok untuk membebaskan warga Muslim Uighur yang ada di kamp-kamp re-edukasi. Tapi, Beijing menyangkalnya dan menyebut warga-warga tersebut sebagai ekstrimis yang harus dididik kembali.

Kasus penanganan Muslim Uighur di Xinjiang memang masih menjadi pembahasan alot banyak pihak, ya Millens. Kamu mendukung apa yang diungkap Paus Fransiskus nggak nih? (Bbc/IB09/E05)