Tingkat Baca Rendah, Picu Persebaran Hoax

Perkara hoax sebenarnya tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga di beberapa negara besar berikut.

Tingkat Baca Rendah, Picu Persebaran Hoax
Persebaran hoax di beberapa negara besar di dunia. (Foto : Google)

Inibaru.id - Perkara hoax sebenarnya tidak hanya terjadi di Indonesia. Di seluruh negara di dunia pun hoax tak dapat dihindarkan. Berdasarkan pantauan di lini masa Twitter selama sepekan pada periode 4-10 Januari 2017 terpantau sebanyak 198.728 tweet dilayangkan netizen dunia dengan kata kunci hoax.

Menariknya, perkara hoax rupanya hanya riuh pada linimasa Twitter Indonesia dan Amerika Serikat. Terbukti kata kunci hoax dipergunakan oleh netizen asal Indonesia sebanyak 104.374 tweet. Sementara netizen Amerika menjadi terbanyak kedua setelah Indonesia.

Kata kunci hoax yang digunakan netizen Amerika Serikat sebanyak 68.494 tweet pada periode yang sama. Pemicu tingginya perbincangan tentang hoax adalah kasus penculikan seorang remaja kulit putih oleh empat orang remaja kulit hitam.

Di bawah Indonesia dan US, posisi ketiga dan keempat terbanyak yang memperbincangkan isu hoax adalah Inggris dan Somalia. Jumlah tweet tentang hoax pada kedua negara tersebut terbilang sangat kecil dibandingkan Indonesia dan US. Jumlah kicauan netizen asal Inggris dengan kata kunci hoax terpantau 3.221 tweet. Disusul Somalia dengan jumlah kicauan mencapai 2.230 tweet.

Amerika mungkin boleh mengklaim sebagai negara dengan jumlah pengguna Twitter terbanyak di dunia. Tapi untuk urusan “kecerewetan”, Indonesia menempati urutan nomor satu dinilai dari jumlah cuitan di Twitter.

Berdasar data yang didapat dari Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) pada 2016 jumlah netizen di Indonesia adalah 132,7 juta jiwa atau 51,1 persen dari total penduduk Indonesia. Sementara menurut situs statista.com, lima besar media sosial terbanyak yang digunakan netizen Indonesia berturut-turut adalah Facebook, Instagram, Twitter, Path, dan Google+.

Besarnya netizen Indonesia yang menggunakan Facebook, menempatkan Indonesia pada peringkat keempat negara dengan pengguna Facebook terbanyak di dunia. Sementara tiga besar negara pengguna Facebook di dunia adalah India dengan 195,16 juta pengguna, Amerika Serikat dengan 191,3 juta pengguna dan Brazil dengan 90,11 juta pengguna.

Minat Baca Rendah

Dewasa ini lini masa media sosial sangat memprihatinkan karena banyak berita hoax tersebar, disukai, di-share dan dikomentari dengan riuh seolah-olah berita tersebut benar adanya. Padahal informasi tersebut informasi palsu bahkan fitnah yang tujuannya bervariasi mulai dari tujuan politik, menjatuhkan kredibilitas seseorang atau hanya sekadar sebagai guyonan.

Persebaran berita hoax semakin diperparah lantaran aktifnya netizen Indonesia ternyata tidak didukung dengan minat baca atau besarnya angka literasi. Dari hasil penelitian dari The World’s Most Literate Nations (WMLN), tingkat literasi dunia pada April 2016 menempatkan Indonesia di urutan ke-60 dari 61 negara yang disurvei. Minat baca penduduk Indonesia terletak di bawah Thailand dan hanya setingkat diatas negara Bostwana, negara kecil di benua Afrika dengan penduduk yang hanya 2,1 juta jiwa.

Data tambahan yang dihimpun oleh Litbang Kompas menemukan bahwa minat baca masyarakat Indonesia baru sebesar 0.001 persen dan rata-rata masyarakat Indonesia hanya membaca 27 halaman buku dalam setahun. Rendahnya angka literasi itu membuat orang Indonesia mudah termakan isu, tanpa ada keinginan untuk mengkaji kebenaran atas isu tersebut.

Tanpa klarifikasi lebih dulu, jika membaca berita di Facebook atau Twitter, langsung saja di-like, di-share, di-retweet. Bahkan acap kali ditambah dengan kata-kata yang provokatif. Berita yang provokatif ini lalu diterima oleh orang yang juga malas membaca dan mudah terprovokasi. Akhirnya berita yang belum jelas kebenarannya ini tersebar dari satu akun media sosial ke akun  yang lain hingga menjadi viral. Inilah yang memicu maraknya hoax. (IP)