Tiangong 1 Akhirnya Jatuh di Samudra Pasifik

Setelah sempat sulit diprediksi kapan meluncur ke Bumi, stasiun luar angkasa Cina Tiangong 1 akhirnya jatuh di Samudra Pasifik pagi ini.

Tiangong 1 Akhirnya Jatuh di Samudra Pasifik
Tiangong 1 sebelum jatuh (Inverse.com)

Inibaru.id - Stasiun luar angkasa pertama Tiongkok, Tiangong 1 akhirnya jatuh di Samudra Pasifik pada 2 April sekitar pukul 07.16 dengan kecepatan luncur 27 ribu  kilometer per jam. Stasiun yang diluncurkan pada September 2011 silam ini mengalami penurunan 3,2 kilometer per hari dalam garis lintang 43o LU dan 43o LS.

Sebelum jatuh, Badan Antariksa Tiongkok sempat salah memprediksi bahwa Tiangong 1 akan terlihat di Sao Paulo, Brasil, dan jatuh di Samudra Atlantik pada pukul 08.15 GMT. Nggak hanya Badan Antariksa Tiongkok, Badan Antariksa Eropa pun sempat salah memprediksi bahwa Tiangong 1 akan jatuh pada Minggu.

Staf Teknis Badan Antariksa Eropa Holger Krag menyebutkan, secara teori sebagian besar badan Tiangong 1 yang berbobot 8,5 ton tersebut akan terbakar di atmosfer dan kemungkinan hanya akan menyisakan 20-40 persen dari massanya. Kendati demikian, Krag juga memprediksi jatuhnya stasiun luar angkasa tersebut nggak akan menimbulkan korban jiwa.

“Perkiraan saya, peluang saya dicederai oleh satu dari serpihan-serpihan ini serupa dengan peluang disambar petir dua kali dalam tahun yang sama,” ungkap Krag.

Melewati Samudra Atlantik, Afrika, Asia, dan berakhir di Samudra Pasifik, posisi jatuh Tiangong 1 lebih ke utara Point Nemo. Point Nemo adalah kawasan di Samudra Pasifik yang ditujukan sebagai kuburan benda antariksa yang sudah nggak lagi digunakan. Kawasan ini dipilih lantaran jauh dari daratan dan nggak dilewati kapal sehingga nggak menimbulkan bahaya bagi manusia.

Selain Tiongkok, negara-negara seperti Indonesia, Australia, Kanada, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, AS, dan Korea Selatan juga turut memantau jatuhnya Tiangong 1. Sejumlah badan antariksa di negara-negara tersebut memprediksi puing-puing Tiangong 1 turut tenggelam di Laut Pasifik Selatan. (AS/GIL)