The Sin Nio, Mulan Versi Indonesia yang Berjuang untuk Revolusi

The Sin Nio, Mulan Versi Indonesia yang Berjuang untuk Revolusi
The Sin Nio, pahlawan revolusi Indonesia. (Pik/dok. Majalah Sarinah)

Kisah Mulan yang menyamar jadi laki-laki agar bisa ikut berperang beneran terjadi di Indonesia, lo. Sang pejuang adalah The Sin Nio. Sayang, nasibnya di masa tua ternyata terlunta-lunta.

Inibaru.id – Kalau membicarakan tentang karakter Mulan yang sudah beberapa kali diangkat sebagai film, maka yang terpikir adalah seorang perempuan yang menyamar jadi laki-laki untuk berjuang dalam perang. Nah, kisah ini ada di Indonesia, lo. Perempuan yang melakukannya adalah The Sin Nio!

Dari namanya saja kita sudah tahu kalau The Sin Nio ini adalah keturunan Tionghoa. Sebagaimana sekarang, orang-orang Tionghoa minoritas di Nusantara. Namun, hal ini nggak menyurutkan nasionalisme The Sin Nio sehingga membuatnya tetap ikut revolusi. Dia nggak rela Indonesia terus-terusan dijajah sehingga memutuskan untuk masuk militer sebagai tentara.

Omong-omong, di masa itu, perempuan memang jarang langsung masuk ke medan perang. Andaipun ikut terlibat, lebih ke memberikan dukungan dalam hal penyediaan makanan atau logistic lainnya bagi para pejuang, atau menjadi bagian palang merah. Nah, The Sin Nio nggak rela dengan peran perempuan yang hanya menjadi pendukung. Dia juga ingin perempuan nggak lagi dipandang sebelah mata.

Memang, cerita tentang The Sin Nio sebagai perempuan pejuang di masa revolusi melawan Belanda jarang diperbincangkan. Catatan tentangnya juga cenderung minim. Hanya, bukan berarti namanya terlupakan oleh zaman.

Menurut catatan Majalah Sarinah, tekad The Sin Nio demi bergabung dengan para prajurit membuatnya nekat menyembunyikan identitasnya sebagai seorang perempuan. Dia mengaku sebagai laki-laki. Entah bagaimana ceritanya dia bisa sampai menyembunyikan hal ini sehingga mampu bergabung di Kompi 1 Batalyon 4 Resimen 18.

Makam The Sin Nio nggak bisa ditemukan karena sudah tertumpuk makam lainnya. (Twitter.com/azmiabubakar12)
Makam The Sin Nio nggak bisa ditemukan karena sudah tertumpuk makam lainnya. (Twitter.com/azmiabubakar12)

Menariknya, The Sin Nio juga mengubah namanya dengan Moechamad Moechsin. Nama yang sangat khas Jawa di masa itu. Dia memilihnya karena aslinya adalah Wonosobo, Jawa Tengah.

Perjuangannya nggak mudah, Millens. Apalagi saat itu Belanda juga melakukan adu domba dengan menyebut kaum Tionghoa sebagai mata-mata. Posisi The Sin Nio pun sempat terjepit. Dia adalah seorang Tionghoa, sekaligus perempuan yang menyamar sebagai laki-laki pula.

Begitu Indonesia merdeka, The Sin Nio pun meninggalkan militer. Dia kembali menjadi orang biasa yang tetap menyembunyikan kisahnya yang pernah menyamar menjadi prajurit laki-laki. Dia mengaku berjuang hingga Indonesia merdeka bisa memberikan kepuasan bagi dirinya sendiri.

Meski begitu, pada 1973, The Sin Nio sempat ke Jakarta untuk menuntut haknya sebagai veteran perang. Sayang, usahanya nggak langsung mendapatkan sambutan dari pemerintah. Barulah pada 1981, dia mendapatkan haknya. Dia bahkan bertemu dengan Ibu Tien soeharto. Setelahnya, dia mendapatkan surat dari Wakil Panglima ABRI Lamsamana Sudomo terkait haknya sebagai veteran.

Sayangnya, surat itu nggak menjamin hak tunjangannya sebagai veteran cair. Dia pun hidup dengan sederhana hingga meninggal di usia 70 tahun pada 1985. Lebih ironis, dia dimakamkan di TPU Layur, Rawamangun, Jakarta, bukannya di Taman Makam Pahlawan sebagai tanda penghormatan atas dedikasinya.

Kisah The Sin Nio ini nggak kalah hebat dari Mulan, ya Millens? (Kon/IB09/E05)