Tersendat-sendat, Nasib Pejuang Skripsi di Kala Pandemi

Tersendat-sendat, Nasib Pejuang Skripsi di Kala Pandemi
Ilustrasi mahasiswa tingkat akhir yang pusing memikirkan skripsi (Inibaru.id/ Julia Dewi Krismayani)

Skripsi atau tugas akhir adalah kewajiban yang harus ditempuh mahasiswa demi mendapatkan gelar akademiknya. Namun, kalau lagi ada pandemi begini, bagaimana nasib mereka?

Inibaru.id – Skripsi sering dipandang sebagai momok bagi mahasiswa tingkat akhir. Pertanyaan-pertanyaan tentang kemajuan skripsi pun jadi sensitif. Apalagi kalau ditanya soal waktu kelulusan sama keluarga, rasanya sakit banget.

Sedangkan saat ini Indonesia sedang menghadapi pandemi Covid-19. Masyarakat dianjurkan untuk #dirumahaja. Bahkan beberapa kampus telah mengambil kebijakan untuk mengganti kegiatan perkuliahan secara daring. Lantas mahasiswa yang lagi skripsian jadi bingung mau ambil data.

Salah satu yang sedang merasa galau dengan nasib skripsinya adalah Roby Widyanto, mahasiswa Teknik Perkapalan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Roby, begitu panggilan akrabnya, bercerita bahwa dirinya sempat bingung mengenai pengambilan data skripsinya. Sebelumnya, dia berencana mengunjungi laboratorium di Surabaya untuk menguji sebuah model kapal. Namun rencana itu tertunda karena adanya pandemi Covid-19.

Kata pengelola laboratorium tersebut, pengujian kapal akan dilaksanakan April ini. Inilah yang membuat laki-laki ini bingung. Hingga saat ini Roby mengaku belum tahu kapan dia bisa ke sana karena kondisi pandemi belum reda. Itu artinya, skripsi belum bisa rampung dalam waktu dekat.

“Sampai sekarang masih validasi jurnal, kecuali dosen pembimbing berubah pikiran dan situasi memungkinan entah dari laboratoriumnya atau kondisi pandemi sudah surut. Kemungkinan nanti lanjut ke Surabaya,” katanya melalui pesan singkat, Senin (30/3).

Mengambil data bisa dilakukan lewat daring. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya) <br>
Mengambil data bisa dilakukan lewat daring. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Nasib serupa juga dialami Iin Ainun Inayah, mahasiswa program studi Kimia Murni Undip. Setelah Covid-19 merebak, dia kesulitan memperoleh akses ke laboratorium. Padahal penelitiannya mengenai membran sangat bergantung pada laboratorium. Iin baru boleh menggunakan fasilitas itu didampingi oleh dosen.

“Boleh kalau ada dosen dan pas ketemu dosen. Kalau nggak ada dosen ya nggak boleh,” tambahnya, Rabu (1/4).

Pengalaman yang sama juga dialami Rara Rastri Widyakinasih, mahasiswa Ilmu Sejarah Undip yang saat ini sedang pengambilan data. Meskipun sudah mencicil data berupa dokumen arsip sebelum masuknya pandemi ke Indonesia, dirinya mengaku masih ada data yang kurang.

“Ada beberapa data (arsip) yang belum bisa didapatkan karena corona. Terutama ke DPRD buat nyari data hasil rapat tentang pertanian dan kemiskinan,” jelas Rara lewat pesan singkat, Jumat (3/4).

Setelah dapat data tersebut pun dia harus melengkapinya dengan wawancara. Meski serba sulit, Rara mengaku proses bimbingan daring masih bisa dilakukan.

Jadi begitu ya, Millens. Sepertinya semua orang termasuk para pejuang ini harus sabar ya di tengah gempuran corona ini. (Julia Dewi Krismayani/E05)