Kerap Dikira Sama, Sinterklas dan Santa Klaus Dua Sosok yang Berbeda

Kerap Dikira Sama, Sinterklas dan Santa Klaus Dua Sosok yang Berbeda
Santa Klaus (Majeliskepo)

Sama-sama memberikan hadiah di malam Natal bagi anak-anak, Santa Klaus dan Sinterklas rupanya berbeda. Lantas, tokoh yang mana yang dikenal di Indonesia?

Inibaru.id – Menjelang perayaan Natal, kamu tentu akan sering melihat sosok berbaju merah dengan jenggot putih panjang di sejumlah tempat. Sosok itu pun diwujudkan dalam beragam bentuk baik patung, gambar, atau bahkan orang-orang yang memakai kostum. Sosok ini dikenal dengan Sinterklas atau Santa Klaus.

Kompas.com (21/12/2017) menulis, sosok Sinterklas atau Santa Klaus kerap dianggap sama. Padahal, menurut Rodengerg dan Wagenaar dalam artikelnya Essentializing ‘Black Pete’: Competing Narratives Sorrounding the Sinterklaas Tradition in the Netherlands pada International Journal of Heritage Studies, menyebut Sinterklas dan Santa Klaus adalah dua sosok yang berbeda.

Sosok Sinterklas terinspirasi dari Saint Nicolas, uskup asal Myra, Yunani yang hidup pada abad ke-3. Saint Nicolas dikenal dengan kedermawanannya kepada orang miskin. Sosok Sinterklas digambarkan sebagaimana uskup pada umumnya yakni mengenakan jubah, topi uskup atau mitre, dan tongkat gembala uskup.

Cerita Sinterklas ini pada awalnya muncul di Belanda. Masyarakat Negeri Tulip itu menceritakan Sinterklas datang dari Spanyol. Sinterklas selalu ditemani Zwarte Piet atau Piet Hitam saat membagi-bagikan hadiah.

Sementara itu, Santa Klaus populer di Amerika Serikat. Asal mula tokoh ini terkait dengan sejarah Kota New York pada abad ke-17. Saat itu, New York berada di bawah pemerintahan Belanda dan dikenal sebagai New Amsterdam. Namun, gambaran Sinterklas di New York berbeda dengan Sinterklas dari Belanda. Sosok dermawan ini digambarkan sebagai kakek berperawakan gemuk dari Kutub Utara, memiliki rambut dan janggut putih serta memakai pakain khas musim dingin yang tebal.

Tokoh Santa Klaus semakin dikenal di Amerika Serikat sejak perusahaan minuman Coca Cola menggunakannya dalam iklan. Sebagaimana warna dari brand minumannya, Santa juga memakai baju merah dan putih. Sejak saat itulah tokoh Santa Klaus erat dengan warna merah dan putih.

Kendati orang Indonesia menyebut Santa Klaus sebagai Sinterklas, sebenarnya rujukan Sinterklas di Indonesia lebih dekat dengan Santa Klaus versi Amerika. Sinterklas lebih sering disebut karena lebih mudah diucapkan masyarakat Tanah Air.

Namun, yang pasti, baik Sinterklas maupun Santa Klaus sama-sama digambarkan sebagai sosok yang membagi-bagikan hadiah Natal kepada anak-anak. Asal dapat hadiah Natal, anak-anak sepertinya nggak begitu mempermasalahkan perbedaan itu ya, Millens. Ha-ha. (IB09/E04)