IQ Tinggi Nggak Jamin Seseorang Terhindar Hoaks
Ilustrasi hoax. (Metro Libre)

IQ Tinggi Nggak Jamin Seseorang Terhindar Hoaks

Seseorang sering tertipu dengan berita bohong. Apa sih yang membuat seseorang mudah percaya berita bohong?

Inibaru.id – Makin hari, berita bohong yang tersebar di internet makin menjadi-jadi. Banyak orang yang kemudian tertipu berita bohong ini. Meski sudah pernah tertipu berita bohong, orang masih mudah percaya untuk mempercayai berita bohong lain sekalipun orang tersebut cerdas.

Tim riset Stanford History Education Group dari Stanford University melakukan riset terhadap fenomena ini. Dari hasil riset tersebut ditemukan fakta mengejutkan. Kalangan remaja di Amerika Serikat yang sangat melek terhadap teknologi digital hingga kaum akademisi dengan IQ tinggi ini rupanya kerap mengabaikan pertanyaan kritis seputar situs yang mereka akses di internet.

Studi lain menunjukkan, orang juga sering me-retweet tautan tanpa membaca isinya terlebih dahulu. Mereka dinilai terlalu bergantung pada mesin pencari. Jajak pendapat yang dilakukan Pew pada 2016 lalu menemukan, hampir seperempat penduduk Amerika telah membagikan artikel palsu.

Ketidakmampuan dalam memilah berita hoaks ini memiliki dampak yang begitu besar. Berita-berita palsu tersebut sering digunakan untuk memanipulasi. Salah satu contohnya yakni pada media sosial Facebook. Pada pertengahan pemilu AS 2018, ada unggahan tentang kampanye yang mengundang ribuan orang untuk melakukan protes yang sebenarnya nggak pernah ada. Tujuan unggahan itu hanya untuk mempertemukan kelompok nasionalis kulit putih dengan sayap kiri di lokasi yang sama. Namun, kini akun Facebook penyebar berita bohong tersebut telah dinonaktifkan.

Masyarakat Mesti Ambil Bagian

Nggak mudah memang untuk menangani berita bohong yang penyebarannya hanya dalam hitungan detik. Pemerintah dan perusahaan-perusahaan teknologi yang besar sangat perlu untuk meredam penyebaran hoaks. Namun, kedua pihak itu nggak cukup, masyarakat umum pun mesti ambil bagian dalam pemberantasan hoaks. Pengguna internet dan pembaca berita pun turut bertanggung jawab.

Hal ini bisa ditempuh dengan berbagai cara. Salah satunya mengecek terlebih dulu validitas suatu berita. Manusia cenderung menghemat energi dan waktu dengan berpegang pada kebiasaan serta hal-hal familiar. Salah satu contoh, saat belanja di pusat perbelanjaan, alih-alih membandingkan satu merek minuman dengan minuman lain, orang justru akan memilih minuman yang telah biasa dikonsumsi.

Kebiasaan itulah yang membuat orang cenderung beranggapan jika sesuatu tampak familiar maka hal itu baik dan aman. Namun, terlalu bergantung pada hal-hal yang familiar bisa menyesatkan, terutama di dunia maya. Karena itulah, perlu adanya pengecekan keabsahan suatu berita. Bandingkan terlebih dulu berita yang ada dengan sumber berita lainnya.

Nah, mulai sekarang saring betul-betul berita yang kamu dapatkan ya, Millens. Tetap ikuti Inibaru.id ya untuk mendapatkan berita yang valid. (IB24/E04)