Terdampak Corona, Pedagang Alami Penurunan Pendapatan Hingga Berhenti Berjualan

Terdampak Corona, Pedagang Alami Penurunan Pendapatan Hingga Berhenti Berjualan
Lapak pedagang di SMP 13 Semarang yang terlihat sepi. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Sepinya pembeli membuat pendapatan beberapa pedagang ikut turun drastis. Nggak cuma itu, bahkan ada pula yang menutup lapak saking sepinya pembeli. Siapa saja?

Inibaru.id - Pandemi corona yang terjadi di seluruh dunia mempengaruhi segala lini kehidupan. Salah satu yang terdampak adalah para pedagang kecil. Akibat  sepi pembeli, beberapa pedagang mengaku mengalami penurunan pendapatan hingga ada yang terpaksa menutup usahanya.

Hal inilah yang terjadi pada para pedagang di sekitar SMP 13 Semarang. Gerobak pedagang yang biasanya berjejer rapi, kini terlihat ompong karena beberapa pedagang memilih absen. Pembeli dari kalangan pelajar dan mahasiswa yang biasanya mengantre, kini nggak lagi tampak.

Rabu (1/4), saya bertemu dengan Eni Anggraeni, seorang pedagang jus dan minuman ringan yang terlihat nganggur tak seperti biasanya. Eni mengaku beberapa hari ini pendapatan dari hasil jualannya menurun drastis. Mungkin hampir 75 persen.

“Sepi banget, ya laku cuma turunnya drastis,” ungkap perempuan 32 tahun ini.

Jika biasanya Eni mengantongi 400-an ribu, kini cuma bisa dapat Rp 60-100 ribu per harinya. Hal ini bikin dirinya dan suaminya yang menemaninya berjualan harus mengencangkan ikat pinggang.

Hal senada juga diungkap oleh Ahmad Basuni, seorang penjual satai yang mangkal di samping lapak Eni. Meskipun penurunan penghasilannya nggak separah Eni, Abas, panggilan akrab lelaki 33 tahun ini mengaku bahwa penghasilannya turun hingga hampir 50 persen.

“Biasanya sehari bisa dapat 350 ribu, sekarang mentok cuma 200 ribu,” ungkap Abas.

Tutup Lapak

Omset Abbas yang turun hingga setengah. (Inibaru.id/ Zulfa)
Omset Abbas yang turun hingga setengah. (Inibaru.id/ Zulfa)

Berbeda dari keduanya, Adbul Karim, pedagang kucingan di Tanjung Sari, Ngaliyan, terpaksa menutup warungnya karena nggak ada pembeli yang rata-rata merupakan mahasiswa. Lelaki ini juga terpaksa merumahkan 5 pelayannya yang setiap hari membantunya berjualan.

Kampus diliburkan. Bingung mau jualan karena nggak ada pembelinya,” ungkap Abdul melalui pesan WhatsApp.

Bahkan sebelum kukutan, Abdul mengaku bahwa jualannya banyak yang nggak tersentuh dan terpaksa dibawa pulang kembali. Padahal dia cuma melapak dengan porsi seperempat dari jumlah biasanya.

Faktor lain yang membuat Abdul menutup dagangannya adalah surat edaran Dinas Perdagangan Kota Semarang yang mengimbau agar PKL di Kota Semarang untuk mengakhiri jualan pada pukul 22.00 WIB. Singkatnya waktu berjualan berpengaruh besar pada pendapatannya.

Atas peristiwa ini, ketiganya berharap agar wabah segera berakhir.

“Semoga cepat pulih, jualan lancar dan cari rejeki gampang dan semua orang diberi kesehatan,” pungkas Emi.

Semoga wabah ini segera berakhir dan semua orang kembali beraktivitas seperti biasa ya, Millens! (Zulfa Anisah/E07)