Terbentur Identitas dan Stigma, Waria Susah Dapat Bantuan Sosial Dampak Corona

Terbentur Identitas dan Stigma, Waria Susah Dapat Bantuan Sosial Dampak Corona
Teman-teman waria hidupnya menjadi tertatih-tatih semenjak pandemi corona melanda. (Inibaru.id/ Audrian F)

Kalangan transpuan atau waria sulit dapat bantuan sosial. Padahal mereka juga salah satu bagian masyarakat yang terkena dampak pandemi. Praktis dengan segala yang dimiliki dan hal-hal yang menghalangi, waria terus berupaya bertahan hidup.

Inibaru.id - Kalangan transpuan atau waria mungkin tergolong sebagai bagian dari masayarakat yang luput perhatian. Identitas yang belum diakui oleh Negara membuat mereka sulit mendapatkan bantuan. Belum lagi stigma yang telah tertanam di masyarakat membuat mereka makin sulit menerima uluran tangan.

Keluh-kesah waria diwakilkan oleh ketua Persatuan Waria Semarang (Perwaris) yakni Silvy. Menurutnya, dampak pandemi corona juga menyambangi mereka. Salah satunya masalah ekonomi. Adanya pembatasan sosial turut meredupkan mata pencaharian.

Misalnya yang mempunyai usaha salon, harus menerima kenyataan dengan berkurangnya pelanggan, bahkan ada yang sampai tutup karena nggak ada seorang pun yang datang. Menjelang Ramadan, biasanya para waria penyedia jasa rias pengantin sibuk diundang ke sana ke mari. Tapi tahun ini minim order dan itu pun harus ditunda. Begitu juga dengan waria yang berprofesi sebagai penghibur di acara-acara hajatan. 

“Pengaruh pembatasan fisik dan sosial tentu berdampak bagi semua profesi teman-teman,” kata Silvy saat dihubungi via Whatsappi pada Rabu (22/4/2020).

Silvy, terus mengupayakan bantuan untuk teman-temannya. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Silvy, terus mengupayakan bantuan untuk teman-temannya. (Inibaru.id/ Audrian F)

Lebih naas lagi bagi teman-teman waria yang bekerja sebagai pekerja seks. Diberlakukannya pembatasan sosial pada malam hari di Kota Semarang membuat mereka harus kucing-kucingan dengan petugas keamanan yang melakukan penertiban. Bahkan ada yang sempat mendapatkan perlakuan nggak pantas.

“Yang terkena razia disuruh buka baju dan rambutnya dipelontos,” jelas Silvy.

Pasrah

Silvy mengaku belum mendapat bantuan. Begitu pula dengan teman-teman waria lainnya yang tergabung dalam Perwaris.

Sejauh ini, Perwaris hanya dapat mengandalkan bantuan dari donasi melalui jaringan-jaringan lembaga sosial yang tersedia. Selebihnya mungkin hanya bisa pasrah menanti keadaan.

Kemudian untuk bertahan hidup, Silvy mengungkapkan kalau teman-teman waria masih terus berjuang meskipun dengan tertatih-tatih. Misalnya saja bagi pekerja seks, ada yang tetap bandel bekerja meskipun juga was-was apabila kena razia oleh petugas keamanan lagi. Sementara yang lain, ada yang berjualan online seperti bahan baku sembako dan ada juga yang memilih pulang kampung.

“Soalnya ya nggak ada pilihan lain selain bertahan hidup dengan seperti itu,” tandas Silvy.

Semoga mereka segera dapat bantuan juga ya, Millens. (Audrian F/E05)