Tentang Bapak yang Mendorong Gerobak Sejauh 75 Km untuk Mengobatkan Anaknya

Seorang ayah mendorong gerobak sejauh 75 kilometer demi mengobatkan anaknya sungguh memantik empati. Benarkah kisah itu? Pengakuan orang yang mengenal lelaki itu bisa dijadikan acuan untuk menilai kisah heroik ini.

Tentang Bapak yang Mendorong Gerobak Sejauh 75 Km untuk Mengobatkan Anaknya
Suprijadi membopong Waras Yanuar (Liputan6.com)

Inibaru.id - Seorang bapak membawa anaknya di atas gerobak yang dia dorong dari Madiun ke Surabaya untuk mengobatkan anaknya yang sakit.

Berita tentang Waras Yanuar (14) dan ayahnya Suprijadi (52), menjadi ramai setelah pengakuan sang ayah.

Sehari semalam, Suprijadi mengaku mendorong dan menarik anaknya yang sedang sakit di dalam gerobak khusus yang dia desainnya. Tak tanggung-tanggung, jarak tempuhnya sekitar 75 kilometer.

Baca juga: Gadis Ini Seharian Gantikan Menteri Yohana

“Berangkat dari Madiun Selasa, sampai di Surabaya Rabu pagi,” ungkap Suprijadi seperti dilansir Kompas.com (20/10/2017).

Sesampai mereka di Surabaya, sebelum dibawa ke rumah sakit, Waras sempat berpindah-pindah untuk ditempatkan di rumah keluarganya di Sidoarjo.

Membawa anaknya dengan gerobak bukan sekali saja dilakukan Suprijadi. Dia mengaku sudah berkali-kali membawa anaknya dari Madiun ke Surabaya dengan gerobak.

“Dua pekan sekali, anak saya periksa ke rumah sakit di Surabaya,” ucapnya.

Lagi-lagi lewat pengakuan Suprijadi, dirinya merasa malu jika terus-terusan dibantu keluarga dan tetangganya untuk mengobati putranya. “Akhirnya saya tarik saja (gerobak-Red) sesampai-sampainya.”

Waras adalah anak bungsu Suprijadi. Sejak empat tahun lalu dia menderita sakit. Karena sakit panas, dan tidak segera diberi tindakan medis, anaknya lalu menderita lumpuh. Untuk merawat anaknya di Madiun, Suprijadi mengaku meninggalkan pekerjaannya di Surabaya.

Sementara istrinya, kata Suprijadi, pergi ke Surabaya setelah mengetahui anaknya sakit.

Sudah Lama di Surabaya

Apakah benar semua pengakuan Suprijadi? Kompas.com menelusuri kampung halaman Suprijadi di Madiun pada Kamis (19/10/2017) sore. Penelusuran menemukan bahwa keterangan Suprijadi tidak sesuai dengan pernyataan Kepala Desa Sugihwaras, tempat Suprijadi tinggal di Madiun.

Kepala Desa Sukimin mengatakan, Suprijadi dan keluarga sudah lama tidak tinggal di Desa Sugihwaras, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun. Terakhir, Suprijadi bermukim di desa itu pada 2011.

“Pak Suprijadi memang pernah tinggal di desa ini. Dia tinggal di rumah kakak iparnya, Sulistianingsih enam tahun yang lalu,” kata Kepala Desa Sugihwaras, Sukimin saat ditemui di rumahnya, Kamis (19/10/2017) sore.

Ia menuturkan, Suprijadi dan istrinya, Winarsih tinggal di rumah Sulistianingsih sekitar lima tahun, dari 2005 hingga 2011. Saat berada di desa itu, pria beranak empat itu bekerja sebagai buruh tani dan kuli bangunan.

Setelah bekerja enam tahun, kata Sukimin, Suprijadi bersama istri dan empat anaknya pindah ke Surabaya.

Kakak ipar Sukimin, Sulistianingsih mengaku sudah lama tidak berkomunikasi dengan adiknya, Winarsih. Terakhir, Ningsih, panggilan akrab Sulistianingsih, bertemu adiknya tinggal di sebuah kos di Surabaya sebelum Lebaran.

Baca juga: Aksi Ta Nou Wanita Asal Gorontalo Mencelupkan Tangan ke Minyak Panas Pukau Malaysia

Sebelum pindah ke Surabaya, Ningsih mengatakan Suprijadi dan istrinya pernah tinggal selama enam tahun di rumah Ningsih. Namun setelah itu, Suprijadi dan istrinya memilih pindah ke Surabaya.

Tentang anak keempat Suprijadi yang sakit, Ningsih mengatakan anak adiknya memang sakit sejak kecil. Awalnya, keponakannya yang biasa dipanggil Bendol itu terlahir normal.

Namun setelah berumur setahun, Bendol terserang sakit panas. Saat itu, leher Bendol tidak bisa digerakkan, lalu dirawat di rumah sakit.

Ningsih tidak mengetahui tersebarnya foto-foto Suprijadi membawa Bendol dengan gerobak dari Madiun ke rumah sakit di Surabaya. (EBC/SA)