Microsoft Perluas Kesempatan Kerja bagi Kaum Hawa

Kini, Microsoft memperluas kesempatan bekerja bagi para perempuan di lingkungannya. Mereka bakal membuat program yang ditujukan bagi para perempuan yang menunda kariernya demi mengurus anak dan rumah tangga.

Microsoft Perluas Kesempatan Kerja bagi Kaum Hawa
Microsoft bertekad mengikis ketidaksetaraan gender di lingkungan kerjanya. (Usfinancepost.com)

Inibaru.id – Setelah sempat mendapatkan protes tentang adanya kasus kekerasan seksual dan diskriminasi gender, Microsoft Corp memutuskan untuk memperluas program yang bisa membuat perempuan kembali ke dunia kerja. Raksasa teknologi itu memperluas program untuk membuat kaum hawa bersemangat untuk kembali bekerja sekaligus mengembangkan talenta mereka.

Antaranews.com, Rabu (6/6/2018) menulis, Manajer Sumber Daya Manusia Microsoft Belen Welch menyebut program yang dibuat Microsoft akan fokus kepada para perempuan yang menunda kariernya demi mengasuh anak atau melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya. Program ini sebelumnya populer di Silicon Valley yang memang sedang gencar-gencarnya mengikis ketidaksetaraan gender di dunia kerja.

Nggak hanya memperjuangkan kesetaraan gender, Microsoft juga pengin menciptakan lingkungan pekerja yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Sebagai contoh, mereka bakal memberikan kesempatan bagi orang-orang yang belajar coding secara autodidak atau lulusan dari coding boot camp. Mereka tidak membatasi hanya menerima pekerja yang merupakan lulusan sekolah konvensional coding.

Menurut laporan internal Microsoft pada September 2017 lalu, perempuan yang bekerja di perusahaan Microsoft di seluruh dunia hanya mencapai 26 persen dari jumlah total pekerja. Sementara itu, hanya 19 persen perempuan yang menduduki jabatan pimpinan.

Protes Diskriminasi Gender

Pada 2010 hingga 2016, Microsoft mendapat 238 kali protes internal yang berkaitan dengan diskriminasi gender dan kesetaraan seksual. Bahkan, Microsoft juga sempat dituntut akibat dianggap tidak menaikkan gaji atau menaikkan jabatan karyawan perempuan.

Pihak perusahaan langsung membantah tuduhan ini dan menyebut mereka telah menanggapi 83 protes tentang kekerasan dan 84 protes tentang diskriminasi gender pada 2017 lalu. Namun, 20 karyawan harus diberhentikan sebagai konsekuensi dari penanganan protes ini. (IB09/E04)