Teka-Teki Kematian Cleopatra, Ratu Terakhir Mesir

Teka-Teki Kematian Cleopatra, Ratu Terakhir Mesir
Lukisan The Death of Cleopatra karya Juan Luna tahun 1881. (Wikimedia Commons)

Di antara semua tentang Cleopatra, kisah kematiannya yang paling banyak diceritakan. Dalam dunia sastra populer, kekasih Marc Anthony ini dipercaya mati bunuh diri oleh gigitan kobra yang disembunyikan dalam keranjang buah ara. Benarkah demikian? 

Inibaru.id – Cleopatra, Ratu Mesir yang konon cantiknya bukan main, terbujur di ranjang kematiannya yang legendaris. Dia masih mengenakan mahkota lengkap dengan perhiasan. Meski masih misterius, katanya Cleopatra bunuh diri menggunakan gigitan ular Mesir Naja haje (asp).

Sang Ratu harus menelan kekalahan pertempuran Actium. Cleopatra bersama sekutu sekaligus ayah dari tiga anaknya, Marc Anthony, kembali ke Mesir. Tapi, Octavianus nggak melepaskan mereka begitu saja. Ahli waris Julius Caesar ini menyerang Alexandria.

Pada saat inilah kematian harus memisahkan Cleopatra dan Marc Anthony. Suatu hari ada desas desus bahwa Cleopatra telah bunuh diri. Tanpa mencari tahu kebenarannya, Anthony menyusul sang kekasih dengan pedangnya. Anthony mati tepat ketika datang berita bahwa itu cuma hoaks.

Mau bagaimana lagi, mau nggak mau Cleopatra harus bernegosiasi dengan Octavianus. Usai negosiasi, Cleopatra mengunci diri di kamar bersama dua pelayan perempuan. Kemudian, ketiganya ditemukan meninggal.

"Ini artinya cara kematian Cleopatra tak pasti," tulis History.

Pendapat ini masuk akal, karena nggak ada yang benar-benar tahu apa yang ada di balik pintu terkunci tersebut.

Dipatuk Ular Kobra

Seorang profesor sejarah kuno Universitas New Brunswick, Kanada, Adrian Tronson, menyebut kisah kematian Cleopatra sebagai mitos budaya yang diwakili berkali-kali dalam karya seni dan sastra.

"Saya percaya bahwa dasar sejarah dia melakukan bunuh diri dengan gigitan ular meragukan," tulis Tronson dalam "Vergil, the Augustans, and the Invention of Cleopatra’s Suicide-One Asp or Two" termuat di Vergilius 44 (1998).

Kisah kematian akibat gigitan ular ini memang paling banyak diabadikan dalam budaya populer di antara kisah hidup Cleopatra lainnya. Semua dugaan itu semakin dikenal berkat “peran” Shakespeare dalam membuat pertunjukan tragedi Anthony dan Cleopatra. "Versi yang dengan sendirinya menjadi resmi," tulis Tronson.

Ilustrasi Marc anthony dan Cleopatra. (Tribunnews/IST)
Ilustrasi Marc anthony dan Cleopatra. (Tribunnews/IST)

Hingga kini, kisah itu diterima luas, baik dalam budaya populer maupun wacana akademis. Cleopatra dipercaya mengakhiri hidupnya pada usia 39 tahun dengan gigitan ular kobra Mesir.

Tentu saja masih banyak yang meragukan penyebab kematian Cleopatra. Para meneliti telah memeriksa metode kematian sang ratu. Hasilnya, nggak ada kepastian sejarah tentang kisah tersebut.

Selama ini, para peneliti banyak bergantung pada catatan kuno. Catatan ini diperoleh dari Strabo, sejarawah dan geograf Yunani yang hidup pada masa kematian Cleopatra. Sumber ini cukup kuat karena Strabo hidup di Alexandria.

Tronson mengutip dari catatan Strabo bahwa Cleopatra ditawan oleh Oktavianus. Dia bunuh diri secara diam-diam di dalam tahanan. Tapi, sepertinya Strabo nggak yakin apakah itu dengan gigitan ular atau dengan salep beracun.

"Jelas dari sumber Strabo bahwa setidaknya ada dua cerita yang beredar pada masanya," tulis Tronson.

Keraguan lain datang dari catatan Plutarch (46 M–119 M). Dia adalah penulis biografi asal Yunani. Dalam catatannya, dia nggak yakin dengan kisah ular itu.

"Tidak ada jejak reptil yang pernah ditemukan, meskipun katanya beberapa mengatakan mereka melihat jejak ular di dekat laut, di mana jedela kamar (Cleopatra) menghadap ke laut," catat Plutarch sebagaimana dikutip arkeolog Inggris, Joyce Tyldesley dalam Cleopatra: Last Queen of Egypt.

Dalam catatan itu juga Plutarch berpendapat jika Kaisar Octavianus agaknya percaya Cleopatra tewas karena ular. Kaisar baru itu bahkan membawa gambaran Cleopatra yang dililit ular dalam perayaan kemenangannya.

Penulis biografi lainnya yang hidup satu masa dengan Plutarch adalah Suetonius. Sebagai sekretaris kekaisaran Romawi, dia mempunyai akses ke sumber resmi dan arsip negara. Dalam tulisannya tentang Kaisar Augustus, dia secara singkat menyebut Cleopatra.

Menurutnya, Oktavianus sebenarnya sangat ingin sang ratu Mesir itu tetap hidup. Kaisar Augustus I ini bahkan membawa masuk Psylli, seorang pawang ular terkenal untuk menyembuhkan gigitan ular pada Cleopatra.

"Versi ini sejalan dengan apa yang dikatakan Plutarch tentang kepercayaan Oktavianus yang terkenal pada cerita gigitan ular," tulis Tronson.

Cleopatra Sengaja Dibunuh?

Patung Octavinus. (Idn/history)
Patung Octavinus. (Idn/history)

Menurut Joyce Tyldesley, mati bertiga digigit ular nggak bisa dipercaya, terlebih semuanya dewasa.

Pat Brown, profiler kejahatan dari Amerika, dalam The Murder of Cleopatra: History’s Greatest Cold Case juga berpikir sama. "Ketika saya berada di Mesir, Roma, dan Inggris bekerja dengan ahli Mesir Kuno, ahli racun, arkeolog, dan sejarawan dunia kuno, saya mulai mengumpulkan cerita lain yang lebih kredibel di balik kematian Cleopatra,” tulisnya.

Brown nggak habis pikir bagaimana mungkin Cleopatra yang berstatus sebagai tawanan Octivianus dibiarkan tanpa pengawasan di dalam kamarnya. Normalnya, penjaga pasti sudah melakukan penyisiran untuk memastikan ruangan bebas dari benda “berbahaya” yang bisa digunakan tahanan untuk berbuat sesuatu yang nggak diinginkan.

"Orang pasti berpikir akan ada penjaga yang kompeten yang ditempatkan di luar pintu dan mungkin satu atau dua penjaga di dalam pintu juga," tulis Brown.

Sebelumnya, Plutarch menulis bahwa seekor ular disembunyikan di antara buah ara di dalam keranjang. Sangat aneh kalau para penjaga nggak memeriksa isi keranjang itu ketika para dayang membawanya. "Seekor ular bukanlah sesuatu yang mungkin terlewatkan selama pencarian semacam itu," tulis Brown.

François Pieter Retief, seorang pensiunan dosen dan dekan kedokteran di University of the Free State, dan Louise Cilliers, peneliti kehormatan di Departemen Studi Yunani, Latin, dan Klasik, dalam "The Death of Cleopatra" termuat di Acta Theologica: No. 7 (2005): Supplementum berpendapat bahwa ular besar nggak akan muat ke dalam keranjang buah ara. Dia lebih setuju kalau sang ratu dan dua dayangnya mati akibat racun.

Ilustrasi mumi- Hingga saat ini ilmuwan belum bisa memastikan di mana makam Cleopatra. (Live Science)
Ilustrasi mumi- Hingga saat ini ilmuwan belum bisa memastikan di mana makam Cleopatra. (Live Science)

Menurutnya, kobra memang bisa menyebabkan kematian yang cepat meskipun luka gigitan kecil. Tapi, untuk membunuh tiga orang dewasa, ular kobra harus berukuran besar. Jika begitu, ular akan sulit diselundupkan dalam keranjang kecil berisi buah ara dan luput dari pengawasan penjaga.

"Kemungkinan besar keracunan membunuh dengan begitu cepat tiga wanita dewasa, Cleopatra dan pelayannya, Charmion, dan Iras," tulisnya.

Tentu saja, ada teori lain, yakni Cleopatra sengaja dibunuh. Tersangka terkuat adalah Oktavianus. Kemungkinan ini lebih dipercaya Pat Brown.

"Saya percaya tentang apa yang benar-benar terjadi masih tersembunyi di balik selubung propaganda dan sandiwara yang dimainkan oleh pembunuhnya, Octavianus dan agenda Kekaisaran Rowawi," tulis Brown.

Dengan demikian, bagi para ahli sejarah, kematian sang ratu Mesir masih menjadi misteri sementara dunia sudah kadung terbuai dengan kisah romansanya. Kalau kamu percaya versi yang mana, Millens? (his/IB21/E03)