Tancap Gas Pembangunan Menara BTS di Natuna Terkendala PPKM

Tancap Gas Pembangunan Menara BTS di Natuna Terkendala PPKM
Percepatan internet di Kabupaten Natuna menjadi sebuah keharusan. (Metro TV)

Jaringan internet yang memadai menjadi hal penting yang harus dipenuhi di tengah pandemi Covid-19. Namun, PPKM yang diterapkan pemerintah sejak Juni lalu membuat pembangunan menara BTS yang dijanjikan BAKTI mengalami kendala.

Inibaru.id -  Jaringan internet menjadi kebutuhan mendesak di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau (Kepri). Pandemi Covid-19 yang menjadikan segala kegiatan harus dilakukan daring membuat teknologi itu begitu penting. Namun, hingga kini kebutuhan tersebut belum juga terpenuhi.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Natuna Raja Darmika mengatakan, pihaknya saat ini sudah melayangkan surat resmi Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi Kementerian Komunikasi dan Informatika (BAKTI Kominfo) untuk percepatan tersebut.

"Kami membuat surat bupati kepada BAKTI Kominfo. Anak sekolah butuh internet. Kami bekerja dari desa juga harus lancar, karena bekerja dari rumah," ujarnya belum lama ini.

Raja, sapaan akrabnya, mengatakan, surat tersebut dibuat agar pihak terkait segera mempercepat pembangunan 17 menara base transceiver station (BTS) yang sempat dijanjikan BAKTI Kominfo. Hingga kini, imbuhnya, sembilan dari total keseluruhan BTS yang dijanjikan sedang dalam tahap penggarapan.

"Dengan surat bupati ini mudah-mudahan nggak hanya sembilan lokasi yang dipercepat, tapi juga ke-17 lokasi," kata Raja.

Terkendala Pengiriman Bahan

Pembangunan BTS mengalami kendala. (Metro TV)
Pembangunan BTS mengalami kendala. (Metro TV)

Salah satu lokasi pembangunan menara BTS berada di Desa Pengadah, Kecamatan Bunguran Timur Laut, Kabupaten Natuna, Kepri. Proses pembangunan menara di tempat tersebut hingga kini masih dalam tahap pemasangan besi penyangga.

Proses pembangunan ini sempat mengalami kendala karena adanya pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang berlangsung sejak akhir Juni. PPKM menjadikan pengiriman bahan bangunan tertahan di Batam.

Hal ini tentu memunculkan kekecewaan di benak masyarakat yang sudah nggak sabar untuk merasakan kelancaran jaringan internet. Hadirnya jaringan internet tentu akan mempermudah aktivitas harian yang belakangan harus dilakukan daring.

Kepala Desa Pengadah H Muhtar Harun mengungkapkan, banyak kegiatan terhambat akibat keterbatasan jaringan internet. Akses informasi yang seharusnya bisa diakses melalui jaringan tersebut juga terputus.

"Seluruh kegiatan kami terhambat. Misal, laporan tidak bisa dikirim," ujar Muhtar. "Saya banyak kena teguran dari pemkab. Mereka menunggu laporan dari desa yang nggak juga dikirim."

Muhtar berdalih, keterlambatan pengiriman itu terjadi karena dirinya belum menerima instruksi lantaran nggak ada sinyal. Dia kemudian menambahkan, kesusahan sinyal juga membahayakan nelayan andai mereka kena musibah di laut.

"Kami nggak dapat informasi, gimana mau bantu?" tuturnya.

Saat pembangunan menara BTS selesai, Muhtar berharap tingkat kemajuan Desa Pengadah bisa setara dengan desa-desa lainnya, baik dalam segi bisnis, pendidikan, maupun kegiatan sosial.

"Jika tidak ada sinyal, bakal makin parah," tandasnya. (IB04/E03)