Tak Sesuai Domisili, 96 Calon Siswa Dicoret dari PPDB SMA Jawa Tengah
Proses PPDB SMA. (Kompas/Wawan H Prabowo)

Tak Sesuai Domisili, 96 Calon Siswa Dicoret dari PPDB SMA Jawa Tengah

Ketahuan memakai Surat Keterangan Domisili yang nggak sesuai dengan kenyataan, 96 calon siswa PPDB SMA di Jawa Tengah akhirnya dicoret. Begini alasannya.

Inibaru.id – Sebanyak 96 calon siswa yang mengikuti proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Sekolah Menengah Atas (SMA) di Provinsi Jawa Tengah dicoret. Nama-nama tersebut dicoret akibat memakai surat keterangan domisili (SKD) yang nggak valid. Hal ini diungkap langsung Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Hingga Selasa (2/7) sore, setidaknya sudah ada 1.117 calon siswa yang mendaftar dengan menggunakan SKD. Hanya saja, setelah diverifikasi, hanya 1.021 yang memakai SKD yang valid. Sisanya nggak sesuai dengan kenyataan sehingga akhirnya dicoret.

SKD memang menjadi salah satu persyaratan yang harus dilengkapi calon siswa untuk mendaftar di sekolah-sekolah yang diinginkan. Surat ini hanya dikeluarkan institusi yang berwenang. Jika tempat tinggalnya ternyata tidak sesuai dengan yang ada di SKD, maka SKD ini pun dianggap tidak berlaku.

“Jadi mereka langsung dicoret karena memakai SKD yang nggak valid,” terang Ganjar seperti ditulis laman Kompas, Rabu (3/7).

Dari 96 calon siswa tersebut, tujuh di antaranya adalah yang mendaftar di SMA N 1 Kendal, enam calon siswa dari SMA N 1 Purworejo, 17 calon siswa dari SMA N 1 Purwokerto, 23 calon siswa yang mendaftar di SMA N 1 Pekalongan, serta 12 sisanya mendaftar di SMA N 1 Pati.

Ganjar pun menyarankan orang tua dari calon siswa yang dicoret akibat SKD yang nggak valid ini untuk mendaftar kembali dengan SKD yang baru namun sesuai dengan kenyataan. Mereka juga bisa memakai kartu keluarga (KK) baru jika diperlukan. Mereka juga disarankan mendaftar di sekolah yang sesuai dengan zonanya. Jika memiliki prestasi, mereka bisa memakai jalur prestasi.

“Peraturannya sudah jelas. Kalau mau sekolah di luar zona harus memakai SKD dengan syarat minimal sudah enam bulan tinggal di lokasi itu. Kalau nggak sesuai ya namanya curang,” kata Ganjar.

Meskipun maksudnya agar bisa memasukkan anak ke "sekolah favorit", sebaiknya orang tua nggak main curang, ya Millens. (IB09/E04)