Sudah Punya Hari Besar, Anak Grafiti Semarang Bikin Acara Ini

Sudah Punya Hari Besar, Anak Grafiti Semarang Bikin Acara Ini
Graffiti Day yang dilaksanakan di Kota Semarang. (Inibaru.id/ Audrian F)

Anak grafiti akhirnya bisa bernapas lega setelah ditetapkannya 15 Maret sebagai hari raya. Untuk merayakannya, penggiat grafiti di Semarang menggelar melukis bareng di dua titik yaitu Sawunggaling dan Tambak Boyo. 

Inibaru.id - Setelah Hari besar biasanya berkaitan dengan perayaan atau mengingat suatu momen khusus. Karena itu, dalam mencanangkannya nggak bisa sembarangan. Nah, setelah lama nggak memiliki hari raya, akhirnya para penggiat grafiti menetapkan 15 Maret sebagai hari jadi.

Satrio Sudibyo, selaku penggiat grafiti di Semarang menjelaskan kalau pada hari tersebut, semua para pegiat grafiti menggambar beramai-ramai di kota masing-masing.

“Hari ini menjadi awal sejarah bagi kami. Untuk ke depan, bisa diingat kalau tanggal 15 Maret adalah harinya anak grafiti,” ujarnya.

Para penggiat grafiti Kota Semarang saling menuangkan kreativitasnya. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Para penggiat grafiti Kota Semarang saling menuangkan kreativitasnya. (Inibaru.id/ Audrian F)

Penobatan tanggal hari grafiti ini mengambil dari hari jadi “Gardu House”, sebuah wadah grafiti terbesar di Indonesia. Jaringannya sangat luas dan menjadi role model banyak seniman grafiti. Itulah mengapa semua sepakat kalau Hari Jadi Ggrafiti jatuh pada tanggal 15 Maret.

Kata Satrio, penentuan tanggal ini berlangsung lancar. Semua sudah menyepakati karena Gardu House sudah terpercaya.

“Ya, meskipun ada kelompok kecil yang kontra, namun itu nggak menjadi masalah. Mayoritas sepakat pada penetuan tanggal ini,” ujar Dibyo.

Warga melintas di tengah aktivitas menggambar grafiti. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Warga melintas di tengah aktivitas menggambar grafiti. (Inibaru.id/ Audrian F)

Di Semarang, kegiatan menggambar bersama diakomodasi Bring No Clan, wadah penggiat di Kota Semarang. Acara dilakukan di dua tempat yaitu Jalan Sawunggaling, Banyumanik, Kota Semarang dan di Tambak Boyo.

“Kalau cuma satu spot saja memang nggak cukup. Akhirnya teman-teman ada yang berada di Tambak Boyo dan Sawunggaling ini,” ungkap Dibyo.

Harapan Dibyo dari adanya hari Grafiti ini, seni jalanan ini semakin diterima masyarakat, baik sebagai penikmat atau penggiat. Dia nggak ingin ada lagi yang terkena kasus kriminal atau digunjingkan warga karena menggambar grafiti.

Swodshit, salah satu penggambar grafiti di Semarang. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Swodshit, salah satu penggambar grafiti di Semarang. (Inibaru.id/ Audrian F)

“Kami ini mengungkapkan seni. Bukan asal corat-coret saja. Selain itu juga saya harap grafiti Semarang semakin besar dan menyaingi kota-kota lainnya yang lebih dulu terkenal,” tandasnya.

Untuk jumlah pasti peserta, Dibyo nggak mengetahuinya secara pasti. Namun hampir semua para penggambar grafiti di Kota Semarang turun untuk menggambar bersama-sama. Semoga hal ini terus berlanjut ya, Millens. (Audrian F/E05)