Suara Generasi Muda Dalam Kesetaraan Gender di Sektor Pariwisata, Seberapa Lantang?

Suara Generasi Muda Dalam Kesetaraan Gender di Sektor Pariwisata, Seberapa Lantang?
WTIDTALK #6 pada Sabtu (18/9/2021) lalu. (WTID)

Peran anak muda dalam menyuarakan kesetaraan gender di sektor pariwisata menjadi topik menarik dalam WTIDTALK #6 kali ini. Mengangkat tema 'Peran Generasi Muda dalam Pemberdayaan Responsif Gender di Sektor Pariwisata Indonesia', seberapa lantang suara generasi muda?

Inibaru.id – Women Tourism Indonesia memperingati hari lahirnya yang ke-2, belum lama ini. Bertepatan dengan itu, komunitas para perempuan yang bergerak di dunia pariwisata Indonesia tersebut kembali menggelar WTIDTalk, yang telah menginjak seri keenam.

WTIDTALK #6 kali ini mengambil topik yang cukup menarik, yakni “Youth to Elevate Women in Tourism Indonesia”. Intinya, obrolan berkutat tentang generasi muda Tanah Air yang disarankan untuk berperan aktif dalam menyuarakan kesetaraan gender, khususnya di sektor pariwisata.

Digelar Sabtu (18/9/2021) via Zoom Meeting, sejumlah narasumber muda dari dunia pariwisata dan ekonomi kreatif dihadirkan. Narasumber pertama adalah Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Angela Tanoesoedibjo.

Selanjutnya, ada pula Chief Business Officer GODEVI Gandhi Sanjiwani, Putra Pariwisata Intelegensia 2020 sekaligus Miss Cultural Tourism 2020 Sarah Sentoso, dan Founder Silaq Indonesia Paul W Eka. Dimoderatori Founder Women Tourism Indonesia Anindwitya R Monica, acara yang digelar mulai pukul 09.00 hingga 11.30 WIB itu diikuti 138 peserta.

Angela Tanoesoedibjo yang hari itu sekaligus bertindak melakukan opening speech mengungkapkan tentang betapa pentingnya perempuan di sektor pariwisata. Namun, fakta di lapangan, upah mereka lebih kecil 14,7 persen dari laki-laki.

"Kesempatan untuk mendapat posisi yang lebih tinggi untuk bisa menentukan kebijakan juga lebih rendah," terangnya.

Di Indonesia, jumlah female solo travel yang menyukai wisata petualangan, alam, budaya, dan wisata belanja juga semakin meningkat. Keberadaan mereka juga menunjukkan pentingnya para perempuan di dunia wisata yang lebih memahami keinginan para wisatawan.

Kemenprekraf disebut-sebut sudah mendukung hal ini dengan menerapkan program-program yang bisa meningkatkan kualitas SDM para perempuan yang aktif di sektor pariwisata.

WTIDTALK #6 dihadiri oleh pembicara berkualitas dari dunia pariwisata. (WTID)
WTIDTALK #6 dihadiri oleh pembicara berkualitas dari dunia pariwisata. (WTID)

Sementara itu, Gandhi Sanjiwani lebih membicarakan tentang Community Based Tourism di desa-desa wisata yang ada di Bali. Dia juga menceritakan tentang start-up digital bernama GODEVI yang dikelola untuk membantu desa-desa wisata tersebut.

Selain itu, ada juga POKDARWIS yang bisa membantu pengurus desa-desa wisata ini melakukan pemberdayaan dengan sudut pandang yang baru.

Di sisi Lain, Sarah Sentoso membicarakan tentang Kain Makna yang dia kelola. Organisasi non-profit ini dibuat untuk membantu masyarakat NTT, khususnya yang mengelola kain tenun tradisional agar bisa masuk ke panggung internasional. Menariknya, organisasi ini juga ikut mendukung program lain seperti Solar Chapter yang membantu masyarakat Desa Umutnana di Malaka mendapatkan akses air yang lebih baik.

Beda lagi dengan yang diungkap oleh Paul W. Eka yang aktif di Maluku dan Maluku utara. Di sana, dia mendukung pembangunan kawasan konservasi perairan agar bisa bermanfaat bagi masyarakat. Hanya, usai kembali ke Lombok, NTB, muncullah ide untuk membuat social enterprise bernama SILAQ.

SILAQ dibuat untuk memberdayakan perempuan yang ada di Desa Lilir, Lombok. Di masa pandemi yang berat ini, para perempuan ini bisa membuat produk-produk vegan dan handmade yang dipasarkan dengan teknologi terkini sehingga bisa go internasional.

Setelah sesi ini, ada sesi tanya jawab dengan para audiens. Hasilnya cukup menyenangkan. Sebagai contoh, ada kritik tentang pemberdayaan perempuan yang selama ini hanya difokuskan ke peningkatan kuota perempuan di pembuatan kebijakan. Padahal, yang utama adalah diubahnya mindset patriarki yang bisa menghambat kesetaraan gender ini.

Selain itu, para perempuan juga diminta harus yakin dan percaya diri bisa memberikan kontribusi besar di berbagai bidang, termasuk di dunia pariwisata. (Ads/IB09/E05)