Stigma Perempuan Cantik Harus Berkulit Cerah Ternyata Gara-gara Penjajah Belanda

Stigma Perempuan Cantik Harus Berkulit Cerah Ternyata Gara-gara Penjajah Belanda
Perempuan Indonesia suka warna kulit cerah. (Flickr/ Rokok Indonesia)

Di Indonesia, banyak perempuan yang percaya kalau cantik harus berkulit cerah. Padahal, di Indonesia ada beragam jenis warna kulit. Ternyata, standar kecantikan ini dipicu oleh penjajahan Belanda, lo. Kok bisa?

Inibaru.id – Orang Indonesia memang memiliki banyak jenis warna kulit. Ada yang cerah, ada yang sawo matang, ada juga yang gelap. Tapi kalau kita mencermati produk-produk kecantikan kulit di sini, banyak perempuan Indonesia suka warna kulit cerah. Apa penyebabnya, ya?

Usut punya usut, anggapan bahwa kulit dengan warna cerah dianggap lebih cantik ini dipengaruhi oleh faktor penjajahan Belanda, lo. Dulu, kehadiran bangsa Belanda yang berkulit putih seperti jadi standar kecantikan yang baru dari yang selama ini dikenal masyarakat Nusantara. Ditambah dengan kedudukan Belanda sebagai penjajah yang seperti jadi lebih superior, maka ada anggapan kalau kulit warna cerah lebih baik.

Meski terkesan rasis, realitanya di zaman Hindia Belanda, warga kulit putih memang dianggap sebagai warga kelas satu. Mereka adalah petinggi pemerintahan, perusahaan, atau majikan.

Awalnya, hanya sedikit bangsa kulit putih Belanda yang datang dan bermukim di Nusantara. Alasannya tentu saja adalah jarak yang sangat jauh ditambah dengan iklim yang sangat berbeda sehingga membuat mereka susah beradaptasi dengan kehidupan baru. Namun, sejak Terusan Suez di Mesir dibuka pada 1869, jarak yang jauh ini seperti terpangkas.

Semakin banyak wanita berkulit putih dari Belanda yang akhirnya datang ke Hindia Belanda. Mereka datang untuk mengadu nasib sekaligus membawa kebudayaannya ke sini. Salah satunya adalah cara merawat kecantikan. Nah, hal ini ternyata ikut mempengaruhi perempuan-perempuan pribumi di masa itu.

Iklan produk kecantikan di zaman Hindia Belanda. (Historia/Pandji Poestaka)
Iklan produk kecantikan di zaman Hindia Belanda. (Historia/Pandji Poestaka)

Mulai banyak perempuan Nusantara yang ingin memiliki warna kulit lebih cerah. Ditambah dengan adanya hak-hak istimewa seperti pekerjaan, kelas sosial, dan pendidikan yang didapatkan ras kulit putih di Hindia Belanda di kala itu, semakin banyak perempuan yang memimpikan untuk mendapatkan hak-hak istimewa tersebut.

“Yang disebut wanita-wanita elite di masa kolonial bukan hanya para istri Gubernur Jenderal. Ada juga janda-janda, dan anak-anak dari pedagang senior, administrator gudang, pimpinan atau kepala kantor dagang, kantor fiscal, pejabat pengadilan, serta anggota dewan Hindia Belanda,” tulis Jean German Taylor dalam buku berjudul Kehidupan Sosial di Batavia (2009).

Hal lain yang mempengaruhi perubahan standar kecantikan perempuan Nusantara adalah iklan-iklan yang muncul di surat kabar di awal 1900-an. Dulu, iklan produk kecantikan kebanyakan adalah perempuan-perempuan dari Eropa. Menariknya, bahasa yang dipakai di iklan tersebut adalah bahasa lokal.

Sebagai contoh, iklan Sabun Palmolive di harian De Huisvrouw in Indie pada 1937 memperlihatkan perempuan cantik berkulit putih. Alhasil, banyak perempuan lokal yang seperti percaya dengan narasi kalau kecantikan identik dengan warna kulit yang lebih cerah sebagaimana diiklan tersebut.

Produk-produk kecantikan yang diklaim bisa membuat warna kulit lebih cerah seperti bedak Virgin dan Ninon, serta krim dingin Snow pun banyak dibeli perempuan lokal. Nah, ternyata, hal ini terus bertahan hingga sekarang meski kini semakin banyak iklan produk kecantikan yang berusaha mengubah stigma cantik haruslah berupa kulit cerah.

Kalau kamu, apakah juga percaya kalau perempuan cantik harus berkulit cerah, Millens? (Voi/IB09/E05)