Startup di Mata Masyarakat

Sejak startup mulai digaungkan Presiden RI pada 2016, sejumlah pihak berbondong-bondong mendirikan startup. Namun, bagaimana sih tanggapan masyarakat tentang bisnis rintisan ini?

Startup di Mata Masyarakat
Bersiaplah menyambut restoran digital. (Liputan6.com)

Inibaru.id – Digitalisasi di Indonesia terasa semakin masif. Pelbagai lini telah dipengaruhi digitalisasi. Mulai dari transportasi daring hingga belanja daring sudah akrab dengan masyarakat Indonesia. Digitalisasi itu pun membawa perubahan dalam hal lapangan pekerjaan.

Masuknya era digital di Indonesia menginisasi pelbagai pihak untuk berbondong-bondong mendirikan startup. Sebanyak 1.715 startup tumbuh dan berkembang di Indonesia. Jumlah itu mengantarkan Indonesia menjadi negara ASEAN yang paling banyak memiliki startup.

Sejumlah orang bahkan rela melepas pekerjaannya untuk mendirikan startup. Salah satunya founder Tumbas.in, Bayu Mahendra Saubig yang berhenti menjadi arsitek dan beralih menggagas startup.

“Sebelum membuat Tumbas.in saya dulu jadi arsitek, tapi kemudian saya tertarik untuk berbisnis di dunia startup,” ujar Bayu saat ditemui di kantornya.

Berawal dari keprihatinannya terhadap pasar tradisional yang mulai sepi, Bayu kemudian menciptakan Tumbas.in. Aplikasi ini membantu masyarakat untuk berbelanja sayur dan lauk pauk di pasar tradisional. Masyarakat hanya tinggal menunggu di rumah untuk mendapatkan kebutuhan itu.

Baca juga:
Banting Tulang Hidupi Bisnis Startup
Mengintip Perjalanan Startup di Indonesia

Bayu melihat adanya peluang pada sektor tersebut. Laki-laki kelahiran Medan ini kemudian bekerja sama dengan ketiga temannya untuk menciptakan Tumbas.in. Masa awal pendirian Tumbas.in Bayu sempat ditentang orang tuanya.

“Dulu orang tua sempat menentang saya buat mendirikan startup soalnya kan nggak ada jaminan ke depannya gimana. Apalagi saya sudah berkeluarga jadi semakin banyak kebutuhannya,” ungkap Bayu.

Bayu kemudian menjelaskan kepada orang tuanya tentang rencananya itu. Perlahan orang tua Bayu mendukung keputusannya.

Berbeda dengan Bayu, co-founder Madhang.id, Maulana Bayu Samudro justru didukung orang tuanya.

“Keluarga sangat mendukung keputusan saya untuk berbisnis startup,” ujar laki-laki yang juga kerap disapa Bayu itu.

Bayu mendirikan Madhang.id bersama dengan beberapa temannya termasuk anak bungsu Presiden Jokowi, Kaesang Pangarep. Aplikasi besutannya memfasilitasi ibu rumah tangga dan UMKM menengah ke bawah untuk berbisnis kuliner di rumah masing-masing.

Hal yang sama juga diungkapkan co-founder Tumbas. in, Muhammad Fuad Hasbi. Laki-laki yang kerap disapa Fuad ini didukung keluarga atas bisnis startup yang ia geluti.

“Orang tua sih setuju saja dengan apa yang saya lakukan selagi itu baik,” tutur laki-laki asal Palopo, Sulawesi Selatan ini.

Mahasiswa Universitas Diponegoro ini juga mengungkapkan keluarganya justru bangga karena dia sudah bekerja meskipun masih aktif sebagai mahasiswa. Kendati demikian, Fuad dipesan untuk segera menuntaskan kuliahnya. Hal serupa juga disampaikan orang tua Bayu, co-founder Madhang.id yang saat ini masih berstatus mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro, Semarang.

Respons beragam juga ditunjukkan masyarakat berkait dengan bisnis startup yang kian marak di Indonesia. Sebagian masyarakat tertarik menekuni bidang ini dan bekerja di bawah bisnis startup.

“Aku lebih memilih bekerja di startup dibanding dengan korporasi soalnya menurutku kerjanya lebih segar dan kreatif gitu sih, apalagi aku fresh graduate,” ujar Roqibul Maghfirotun Nisak, lulusan salah satu universitas negeri di Semarang ini.

Ninis, panggilan akrabnya, mengaku nggak khawatir bila harus bergabung dengan dunia startup. Dia mengungkapkan kecenderungan startup yang kreatif sepadan dengan kegemarannya menambah pengalaman di bidang kreatif. Soal gaji, Ninis mengaku nggak terlalu mengambil pusing.

Baca juga:
Coworking Space, Tempat Pengganti Kantor yang Asik
Dulu Nggak Ada, Profesi Kekinian Ini Sekarang Banyak Dicari

Respons berbeda ditunjukkan Dhea Rizka Noor Aliefta. Gadis asli Semarang ini mengaku lebih suka bekerja di perusahaan korporasi. Arah perusahaan korporasi yang lebih stabil membuat Dhea memilih bekerja di jalur ini.

“Kalau startup aku masih pikir ulang soalnya belum tahu ke depannya bakal lebih besar atau nggak,” ujar perempuan berkerudung ini.

Wah, ternyata beragam juga ya respons masyarakat tentang bisnis startup. Sebagian masyarakat mendukung keberlangsungan bisnis ini, tapi ada pula yang enggan bertaruh dengan bisnis startup yang lagi moncer saat ini. Ada yang tertarik berbisnis startup? (IF/GIL)