Singapura Alami Resesi Ekonomi, Bagaimana Nasib Indonesia?

Singapura Alami Resesi Ekonomi, Bagaimana Nasib Indonesia?
Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Reuters/Darren Whiteside)

Singapura dikabarkan mengalami resesi ekonomi. Apakah hal ini akan mempengaruhi ekonomi Indonesia? Berikut penjelasan Sri Mulyani terkait hal ini.

Inibaru.id – Singapura dikabarkan sedang mengalami resesi ekonomi. Hal ini dikhawatirkan akan memberikan dampak pada ekonomi Indonesia. Menteri Keuangan Sri Mulyani pun memberikan pendapatnya terkait dengan hal ini.

Menurut Ani, begitu dia biasa disapa, Indonesia memang mewaspadai resesi di negara tetangga tersebut. Pemerintah memastikan akan memaksimalkan mekanisme anggaran demi mendorong konsumsi, investasi, serta ekspor.

Saat ditanya tentang penyebab resesi di Singapura, perempuan kelahiran Tanjungkarang, 26 Agustus 1952 itu menjelaskan bahwa hal ini disebabkan oleh lockdown atau karantina wilayah yang dilakukan negara tersebut dan negara-negara lain beberapa waktu terakhir akibat pandemi virus corona.

Perlu kamu tahu, perekonomian di Singapura sangat bergantung pada ekspor. Nah, keberadaan lockdown ini membuat ekspor otomatis berhenti total.

“Seluruh kegiatannya terhenti. Environment global-nya juga sangat lemah. Maka perekonomian Singapura yang peranan global­ demand-nya sangat besar karena ekspornya lebih dari 100 persen, domestic demand-nya nggak bisa disubtitusi,” ucap Sri saat melakukan rapat Banggar DPR pada Rabu (14/7/2020).

Singapura mengalami resesi ekonomi karena terdampak pandemi Corona. (holamigo.id)
Singapura mengalami resesi ekonomi karena terdampak pandemi Corona. (holamigo.id)

Pada Kuartal II 2020, ekonomi Singapura minus 41,2 persen dan minus 12,6 persen jika dihitung tahunan (YoY).

Sebelumnya, pemerintah Singapura telah memperkirakan pertumbuhan ekonomi ada pada minus 7 hingga minus 4 persen, terendah dalam sejarah. Meski begitu, Singapura optimis ekonomi tahun depan akan pulih dan meningkat 5 persen.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Kuartal I 2020 hanya 2,9 persen, jauh lebih rendah dari 5,07 persen tahun lalu. BPS menyebut pertumbuhan ini sebagai yang terendah dalam 20 tahun.

Pada Kuartal II nanti, Ani memprediksi pertumbuhan ekonomi akan berada pada angka minus 4,3 persen. Dia juga yakin ekonomi Indonesia akan pulih pada kuartal IV tahun ini dengan pertumbuhan sekitar 1,6-3,2 persen.

Sebagai informasi, sebuah negara bisa dianggap mengalami resesi jika dalam dua kuartal berturut-turut dalam satu tahun mengalami pertumbuhan negatif. Indonesia pun mewaspadai kemungkinan terjadinya resesi mengingat komponen utama ekonomi Indonesia juga dipengaruhi ekspor.

“Untuk itu kita juga harus mewaspadainya, bagaimana pun, agent of growth kita konsumsi, investasi, ekspor,” ucapnya.

Nah, apa pun yang terjadi, bersiaplah, Millens. Bukan menakut-nakuti, tapi pandemi ini memang nyata dan sudah sepatutnya kita mengencangkan ikat pinggang tahun ini. (Kum/IB09/03)