Sineroom, Wadah bagi Penikmat Film di Semarang

Tertarik mengapresiasi film-film alternatif, sekumpulan pemuda ini membentuk Sineroom. Apa saja ya kegiatannya?

Sineroom, Wadah bagi Penikmat Film di Semarang
Pemutaran dan diskusi film oleh Sineroom. (Dok. Sineroom)

Inibaru.id – Memilliki keprihatinan terhadap minimnya apresiasi film alternatif, sekelompok pemuda di Semarang ini membentuk Sineroom. Komunitas ini mewadahi para penikmat film, khususnya film alternatif yang jarang ditayangkan pada media arus utama seperti bioskop.

“Banyak film menarik yang diputar di kota lain seperti Jakarta dan Jogja tapi nggak diputar di Semarang. Jadi, kami berpikir membuat Sineroom agar bisa menikmati film-film itu,” jelas Ardian Agil Waskito, koordinator Sineroom.

Komunitas yang terbentuk sejak 27 Juli 2015 ini berfokus pada ekshibisi dan apresiasi film-film alternatif, yakni  film-film di luar arus utama yang didistribusikan secara indie. Nggak hanya memutar film, Sineroom juga mengadakan diskusi yang membahas mengenai film tersebut. Mereka juga seringkali mengundang para pembuat dan pengamat film pada diskusi itu. Wah, mantap nih, Millens!

“Kalau di bioskop kan setelah nonton ya sudah. Nah, kami mengadakan diskusi setelah nonton, di situ apresiasinya. Pada diskusi itu biasanya kami membahas tentang substansi film dan pesan yang dibawa film itu,” terang Ardian.

Film-film yang diputar dan didiskusikan Sineroom biasanya adalah film yang nggak tayang atau hanya tayang beberapa hari di bioskop. Menurut Ardian, para pembuat film alternatif cenderung menyukai pemutaran film secara independen yang disertai diskusi. Ini menjadi salah satu strategi para pembuat film agar nggak mengeluarkan dana yang besar untuk penayangan film di bioskop.

Sineroom sempat berpindah-pindah tempat untuk memutar film sebelum akhirnya menetap di Impala Space. Ardian mengaku pernah memutar film di studio mini Balaikota Semarang dan Museum Ronggowarsito.

Selain memutarkan dan mendiskusikan film, komunitas yang berangotakan puluhan pemuda ini juga memproduksi film lo. Mereka pernah menggarap film omnibus, yakni kumpulan beberapa film pendek yang memiliki kesamaan pada hal tertentu.

“Kami pernah produksi film omnibus yang melibatkan lima sutradara dan lima rumah produksi di Semarang. Kami ajak mereka untuk melatih kecakapan dan referensi," jelas Ardian.

Film besutan Sineroom itu membutuhkan waktu tujuh bulan sebelum diluncurkan pada 2017 silam. Film itu lantas diputar di Lawang Sewu, Semarang dan Jogja Film Festival. Sementara itu, pada April 2018 mendatang, Sineroom juga bakal memutar film omnibusnya yang berjudul Ziarah Kenangan.

Nah, bagi kamu tertarik di dunia perfilman, bisa banget lo kalau mau bergabung dengan komunitas ini. Kamu juga bisa mengikuti kegiatan mereka dengan follow akun Instagram @sineroom_. Yuk, cus gabung. (CUT/IF)