Siapa Pencetus Lukisan Gunung Kembar dengan Matahari dan Jalan di Tengah?

Siapa Pencetus Lukisan Gunung Kembar dengan Matahari dan Jalan di Tengah?
Gambar pemandangan dua gunung yang legendaris sejak SD atau TK. (Twitter/irfan_nuruddin)

Setiap kali pelajaran kesenian atau menggambar, siswa SD atau TK biasanya akan menggambar pemandangan dua gunung dengan matahari dan jalan di tengahnya. Sebenarnya, siapa sih yang kali pertama mencetuskan gambar ini?

Inibaru.id – Kamu pasti akrab dengan gambar pemandangan ini: pemandangan gunung kembar yang mengapit matahari dan di tengahnya. Sejak masa SD atau TK, setiap kali ada pelajaran menggambar, yang diajarkan adalah gambar pemandangan tersebut.

Lukisan itu menggambarkan dua buah gunung yang bersebelahan, lalu matahari terbit di tengah-tengahnya. Di antara dua gunung itu, ada jalan yang panjang, lalu ada sebuah rumah, pohon, sawah, dan burung yang beterbangan. Terkadang, ada juga awan-awan kecil.

Gambar ini dikenal di hampir seluruh Indonesia. Sejak puluhan tahun silam, semua guru memang mengajarkan gambar ini saat pelajaran menggambar atau kesenian. Sebuah pertanyaan pun muncul, siapa pencetus awal gambar yang sangat legendaris ini?

Lukisan tersebut rupanya dicetuskan Tino Sidin. Pada zamannya, pelukis asal Tebingtinggi, Sumatera Utara, kelahiran 25 November 1925 ini adalah salah seorang pelukis ternama.

Nah, sekitar 1980-an, TVRI memiliki acara bernama Gemar Menggambar. Pak Tino ambil bagian dalam acara ini dan mengajarkan kepada anak-anak bahwa mengambar itu mudah dan bisa dilakukan siapa saja.

Gambar pemandangan dua gunung dicetuskan oleh seniman Tino Sidin di acara televisi di TVRI. (Wikipedia/Pinerineks)
Gambar pemandangan dua gunung dicetuskan oleh seniman Tino Sidin di acara televisi di TVRI. (Wikipedia/Pinerineks)

Acara ini sangat populer di Indonesia. Nggak hanya disukai anak-anak, banyak guru sekolah juga terinspirasi dengan gambar-gambar Pak Tino untuk diajarkan di sekolah. Salah satu gambar yang melekat di benak para guru itu adalah pemandangan gunung dengan matahari terbit tersebut.

Sayang, meski melegenda dan dianggap bisa membantu anak-anak untuk tertarik menggambar karena sangat mudah dilakukan, banyak pakar pendidikan yang menyebut gambar ini telah dipakai dengan berlebihan.

Anak-anak justru seperti nggak dibebaskan untuk menggambar sesuai keinginan mereka dan akhirnya memilih menggambar pemandangan yang itu-itu saja. Kasusnya mirip dengan kebiasaan anak-anak Indonesia menggambar bebek dengan pedoman angka dua.

Konon, lukisan dua gunung ini juga menjadi propaganda pemerintahan Orde Baru untuk menunjukkan Indonesia adalah negara agraris. Padahal, Indonesia lebih kompleks dari itu.

Nah, kalau menurut kamu, apakah cara menggambar pemandangan dua gunung ini masih perlu diterapkan anak-anak di masa sekarang, Millens? (Wik/IB09/E03)