Seru-Seruan bersama Masyarakat Khoja di Car Free Day Kota Semarang

Seru-Seruan bersama Masyarakat Khoja di Car Free Day Kota Semarang
Komunitas Khojas meramaikan Car Free Day Kota Semarang. (Inibaru.id/ Audrian F)

Car Free Day Kota Semarang pagi itu terasa lebih seru karena ada pertunjukan khusus yang digelar masyarakat Khoja. Alunan lagu India berikut tariannya membuat suasana jadi riuh. Nggak cuma itu, masyarakat Khoja juga membagikan makanan khas secara cuma-cuma.

Inibaru.id - Seperti yang sudah diketahui, Kota Semarang nggak cuma dihuni etnis Jawa. Ada juga etnis Tionghoa dan Khoja. Secara administratif, mereka bermukim di Pecinan dan Pekojan. Kedua daerah tersebut juga jaraknya nggak jauh.

Pada Minggu (2/2), masyarakat keturunan Gujarat atau yang tergabung dalam Komunitas Khoja Semarang (Khoja's) menggelar sebuah acara di tengah-tengah gelaran Car Free Day Kota Semarang (CFD).

 Tepatnya di depan air mancur Jalan Pahlawan, unjuk budaya ini menyita perhatian pengunjung CFD. Gimana nggak, beberapa anggota komunitas menari-nari dengan iringan lagu India di atas panggung. Aksi mereka tambah "nyata" dengan balutan pakaian khas India yaitu Kurta.

Komunitas Khoja's mengenalkan busana khas mereka. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Komunitas Khoja's mengenalkan busana khas mereka. (Inibaru.id/ Audrian F)

Hadir juga beberapa penyanyi Melayu. Di antaranya adalah Lutvijay, Alek Kumar, Riza Pahlevi, Uzeir Meralbe, Zubeir, Yunus Khoja, Amug Mugni, M Taufiq, dan Munir Khan

Lagu yang paling dikenal tentu berasal dari tembang-tembang milik salah seorang penyanyi dangdut top Indonesia keturunan Khoja yang lahir di Semarang, yaitu A Rafiq. Lagunya yang paling populer yaitu “Pandangan Pertama” langsung mendorong penonton ikut bernyanyi.

Haji Annas Salim Harun, sesepuh dari  Khojas, mengatakan kalau pertunjukan ini dilakukan semata agar masyarakat etnis Khoja, bisa lebih menyatu dengan masyarakat.

“Sebetulnya komunitas ini sudah ada sejak lama. Namun untuk sekarang kami lebih ingin terbuka sekaligus mengenalkan budaya-budaya India kepada masyarakat umum,” ujar Annas.

Haji Annas Salim Harun selaku sesepuh Khojas. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Haji Annas Salim Harun selaku sesepuh Khojas. (Inibaru.id/ Audrian F)

Yang menggagas untuk kembali memperjelas kekerabatan orang-orang Khoja adalah A. Rafiq. Pantas saja mereka sangat mengelu-elukan sosok ini. Selanjutnya komunitas Khoja mempunyai kelompok-kelompok lain seperti musik Melayu, terbangan, dan pencinta Bollywood.

“Di Semarang, warga etnis Khoja punya peran penting juga. Dulu kami juga saling bahu-membahu melindungi Kota Semarang dari para penjajah. Hingga saat ini kami bermukim di Pekojan, seperti Jeruk Kingkit, Bonkenep atau Bonarum, Wot Prau, Bustaman, Suburan, Pandean, Progo, Pemali, dan Pesanggarahan, “ jelas Annas.

Masyarakat Khoja, membagikan makanan khas India. Nggak lama digelar, makanan tersebut langsung habis diserbu pengunjung Car Free Day. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Masyarakat Khoja, membagikan makanan khas India. Nggak lama digelar, makanan tersebut langsung habis diserbu pengunjung Car Free Day. (Inibaru.id/ Audrian F)

Sedikit cerita nih. Sekitar tahun 90-an, popularitas orang India di Semarang sempat menanjak lo. Pasalnya waktu itu di bioskop-biskop Semarang masih masif menayangkan film-film Bollywood. Dari situ masyarakat makin menggemarinya. Kamu juga?

Oh, iya, Khojas nggak cuma menampilkan berbagai macam kesenian India. Namun mereka juga membagikan kuliner khas India seperti Kue Putu, Pis Tuban, Ketan Punar, Acar Poh, Nasi Kebuli, Kuah Lada, Pacri Terong, dan masih banyak lagi. Sayangnya, saya nggak sempat icip-icip karena kehabisan. 

Kalau kamu kemarin ke Car Free Day Kota Semarang juga nggak? Sempat cicipi kuliner Khoja yang mana nih? (Audrian F/E05)