Sepotong Cerita dari Mereka yang Nggak Bisa Mudik

Sepotong Cerita dari Mereka yang Nggak Bisa Mudik
Sebagian orang tidak bisa mudik karena tuntutan pekerjaan. (Arielogis.co)

Lebaran bagi sebagian orang nggak selalu bisa dirayakan dengan keluarga, terlebih jika sudah menyangkut urusan pekerjaan. Bagaimana cara mereka mengisi Lebaran tanpa keluarga? Inibaru telah merangkum cerita mereka buatmu.

Inibaru.id – Mudik merupakan salah satu tradisi menjelang Lebaran yang sangat penting bagi sebagian orang. Mereka beranggapan menghabiskan Lebaran bersama keluarga adalah hal yang wajib. Namun, kenyataannya nggak semua orang beruntung memanfaatkan momen tersebut bersama keluarga.

Mereka yang kurang beruntung pasti punya alasan masing-masing. Salah satu asalan yang menyebabkan seseorang nggak mudik adalah tuntutan pekerjaan.

Abdul Rahmad Dayat adalah salah seorang yang nggak bisa mudik lantaran tuntutan pekerjaan. Profesi Dayat sebagai petugas pelayanan informasi di salah satu bank di Semarang  ini membuatnya harus mengurungkan niat untuk mudik ke kampung halamannya di Blora, Jawa Tengah.

Bila sudah begitu, Dayat hanya bisa menyalurkan kerinduannya kepada keluarga dengan menelepon orang tuanya.

“Orang tua mengerti karena saya kan baru lulus tahun lalu dan sekarang baru mendapat pekerjaan. Jadi, mereka maklum kalau saya ditarik untuk lembur di kantor. Dulu saya juga pernah mondok (belajar di pondok pesantren) juga, jadi ya agak terbiasa untuk berjauhan sama orang tua. Tapi memang tahun ini bakal jadi pengalaman pertama merayakan Lebaran tanpa orang tua,” terang lulusan Universitas Negeri Semarang itu.

Dayat mengatakan, dia mendapat jatah libur selepas Lebaran. Jatah libur itu akan digunakan untuk pulang ke kampung halamannya dan mengobati rasa rindu kepada keluarga.

Selain Dayat, perempuan yang berprofesi sebagai pengajar bahasa Jepang di Semarang ini juga nggak mudik ke kampung halaman. Dea Frauzhulli namanya. Berbeda dengan Dayat, Dea nggak mudik saat Lebaran lantaran ibunya sudah meninggal, sedangkan ayahnya sudah tidak bisa dihubungi.

Selama empat tahun Dea menjalani Lebaran seorang diri. Perempuan asal Surakarta itu nggak memungkiri jika dirinya merasa iri melihat orang-orang bisa melakukan tradisi sungkeman bersama keluarga masing-masing.

“Jujur saja, saya rasanya juga nyesek kalau lihat teman-teman bisa sungkeman sama orang tua mereka, sementara saya sudah nggak punya siapa-siapa lagi. Tapi, ya, mau gimana lagi, sudah takdir saya begini, mau nggak mau ya harus saya terima,” ujarnya kepada Inibaru.id.

Kini, saat Lebaran tiba, Dea hanya bisa merayakannya di Semarang. Namun, di sela-sela kesibukannya di Semarang, Dea tetap berusaha menyempatkan diri untuk berziarah ke makam ibunya di Surakarta saat Lebaran. Selain itu, Dea juga biasanya bersilaturahmi dengan saudara dan teman-teman sekolahnya di Batang, Jawa Tengah.

“Dulu dosen saya sampai ada yang nawari Lebaran di kampungnya tapi ya saya sungkan. Saya akhirnya ke rumah teman-teman di Batang. Pas kumpul ramai-ramai dengan teman atau saudara ya senang, tapi kalau sudah selesai, terus pulang, rasanya ya sepi lagi. Sedih karena sendiri lagi. Tetap nggak ada yang bisa menggantikan orang tua,” jelas Dea sambil berusaha menahan tangis.

Nah, bagi sobat Millens, yang masih bisa mudik dan berkumpul bersama keluarga semestinya lebih bersyukur. Bagi yang belum bisa berkumpul dengan keluarga, jangan bersedih. Saat ini sudah tersedia banyak cara untuk bisa bertegur sapa dengan keluarga meski sedang di tempat yang berbeda kok. Selamat Lebaran, semoga menyenangkan. (Artika Sari/E04)