Seperti di Among Us, Impostor Juga Ada di Dunia Nyata; Yuk, Kenali!

Seperti di Among Us, Impostor Juga Ada di Dunia Nyata; Yuk, Kenali!
Impostor ada di dunia nyata! (Medcom/Among Us)

Istilah impostor yang populer berkat gim Among Us kerap dijadikan julukan bagi orang licik. Namun di kehidupan nyata, ternyata ada pula sindrom impostor lo. Apa gejalanya?

Inibaru.id – Istilah "impostor" belakangan populer di tengah masyarakat seiring dengan gim Among Us yang dimainkan oleh berbagai kalangan. Pada mobile game tersebut, fungsi sosok impostor adalah untuk menipu, membunuh karakter lain, dan membuat pemain lain nggak menyelesaikan misinya.

Istilah impostor yang mengacu pada hal-hal negatif ini kerap dilontarkan untuk menyebut orang yang licik, nggak terkecuali pada spanduk aksi tolak Omnibus Law belum lama ini. Istilah ini disematkan pada para anggota DPR yang mengesahkan undang-undang tersebut. 

Nah, buat kamu yang juga sering menggunakan kata tersebut, sebetulnya istilah impostor memang ada di dunia nyata, lo. Psikolog Klinis UGM Tri Hayuning Tyas dikutip dari CNBC mengungkapkan, ada istilah impostor syndrome atau impostor phenomenon dalam dunia kesehatan mental.

Istilah impostor dikenal dari gim Among Us. (Youngster.id)
Istilah impostor dikenal dari gim Among Us. (Youngster.id)

Sindrom ini merupakan fenomena psikologis yang membuat seseorang nggak mampu menerima dan menginternalisasi keberhasilan yang diraihnya.

“Orang yang mengalami impostor syndrome selalu mempertanyakan dirinya sendiri atas pencapaian atau prestasi yang telah diraih," ungkapnya via laman resmi UGM. "Dia merasa kesuksesan yang berhasil merupakan bentuk keberuntungan atau kebetulan, bukan kemampuan intelektual diri.”

Karenanya, seseorang dengan sindrom ini nggak pernah berhenti meragukan keberhasilannya. Akibatnya, penderitanya akan merasa ketakutan kondisinya tersebut diketahui orang lain, bahkan dianggap sebagai penipu.

“Ada kekhawatiran ketahuan, sebab dia merasa selama ini melakukan penipuan atau berbuat curang. Padahal pencapaian atau prestasi itu nyata karena memang benar-benar mampu atau pintar,” tambahnya.

Bukan Gangguan Jiwa

Penderitanya nggak percaya pada kemampuan diri sendiri. (Relocate magazine)
Penderitanya nggak percaya pada kemampuan diri sendiri. (Relocate magazine)

Oya, perlu kamu tahu, impostor syndrome nggak termasuk gangguan jiwa. Namun, seseorang dengan gangguan ini dapat merasa cemas, stres, atau depresi, sehingga mengganggu kehidupan sehari-hari.

Fenomena impostor  kali pertama dicetuskan Psikolog Rose Clance dan Suzzane Imes pada 1978. Sindrom ini banyak dijumpai pada perempuan cerdas dengan pencapaian yang tinggi. Dari tahun ke tahun, fenomena tersebut nggak cuma ditemukan pada perempuan, tapi juga laki-laki.

“Sindrom ini bisa terjadi pada siapa saja, terutama pada orang yang harus menunjukkan performa pencapaian intelektual. Umum dijumpai saat seseorang memulai perjalanan intelektual atau karier baru, juga pada orang dengan karakter perfeksionis,” tandasnya.

Menurut Tyas, sindrom ini berbeda dengan istilah impostor dalam Bahasa Inggris yang berarti berpura-pura menjadi orang lain untuk tujuan kecurangan atau menipu agar mendapatkan keuntungan.

Wah, baik impostor syndrome atau impostor sama-sama buruk untuk kita ya, Millens. Eh, tapi kamu pernah berhasil menjalankan tugas sebagai impostor di Among Us nggak nih? Ha-ha. (Cnb/IB27/E03)